Nilai-nilai Pesantren Sebuah Tafsir Pancasila

Oleh: M. Tata Taufik

Isu pendidikan karakter bagi bangsa Indonesia sebagai respon terhadap berbagai persoalan karakter bangsa dan integritas kebangsaan pada akhirnya mengarah kepada pemulihan kembali pendidikan moral Pancasila.  Dalam hal ini tudingan tidak berpancasila dan anti Pancasila serta stigma Pancasilais kembali mencuat ke permukaan sebagai bahasa politik yang kadang merugikan bagi kalangan tertentu terlebih kelompok mayoritas muslim yang sering kali menjadi sasaran berbagai “kesan” yang dihubungkan dengan Pancasila. Untuk lebih jauh mengenal bagian dalam pendidikan pesantren dalam konteks Indonesia akan sangat membantu untuk melihat peran dan fungsi pesantren –sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia– ketika dihadapkan dengan Pancasila.

Nilai-nilai Pesantren:

Pesantren merupakan mata rantai yang sangat penting dalam pembangunan bangsa, hal ini tidak hanya karena sejarah kemunculannya yang relatif lama, tetapi juga karena pesantren telah secara signifikan ikut andil dalam upaya membangun kehidupan berbangsa. Dalam sejarahnya, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berbasis masyarakat (society based-education) yang telah mengakar dan tumbuh dari masyarakat, kemudian dikembangkan oleh masyarakat.

Sejumlah nilai baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis –tak terkecuali nilai-nilai kebangsaan dan kebersamaan yang tumbuh berkembang sejalan dengan nilai keagamaan Islam. Suatu nilai merujuk pada suatu yang berharga, berkualitas baik dalam bentuk sesuatu yang melekat pada benda maupun sesuatu yang ada dibalik benda itu. Pengakuan sesuatu itu bernilai atau berharga berdasarkan pada apakah sesuatu itu dipandang benar, berguna, bermanfaat, baik, indah dan lain sebagainya, sehingga setiap orang terdorong untuk mencapai pewujudan dari nilai tersebut. Jadi ada usaha untuk mencapai atau memiliki sesuatu yang berharga itu.

Nilai-nilai tersebut bisa dilihat dari perilaku kehidupan di pesantren mulai dari kiai sampai kepada santri dan masyarakat yang mengitarinya. Nilai dasar pesantren adalah ajaran pokok pesantren yang bersumber dari al-Quran dan Sunah dan yang bersumber dari tradisi pesantren dan tidak bertentangan dengan al-Quran dan Sunah.

KH Imam Zarkasyi salah seorang pendiri Pondok Modern Daarussalam Gontor  merumuskannya dalam panca jiwa pondok pesantren yang merupakan hasil pengamatan dari kehidupan pesantren. Kemudian dikembangkan juga Motto pondok pesantren yang diterapkan sebagai kerangka dasar pendidikan di pesantrennya; berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berpikiran bebas.

Menurutnya pesantren sedikitnya harus memiliki dan menumbuh kembangkan lima jiwa antara lain: Pertama, jiwa keikhlasan, yakni melakukan sesuatu bukan karena didorong oleh keinginan meraih keuntungan tertentu. Segala pekerjaan dilakukan karena niat ibadah, lillahi ta’ala. Kedua jiwa kesederhanaan, kehidupan di dalam pondok pesantren diliputi suasana kesederhanaan. Ketiga jiwa berdikari, adalah jiwa kesanggupan menolong diri sendiri. Santri dan lembaga pesantren memiliki jiwa sanggup berdikari dan bersikap mandiri. Keempat jiwa ukhuwah Islamiyah, kehidupan di pesantren diliputi suasana persaudaraan yang akrab segala suka dan duka dirasakan bersama. Kelima jiwa bebas, bebas dalam menentukan masa depan, dalam  memilih jalan hidup dan lapangan perjuangan, serta bebas dari pengaruh negatif dari luar dan anti penjajahan.

Selain lima jiwa pesantren tadi, bisa ditambahkan juga nilai-nilai seperti perjuangan, pengabdian (khidmah), kemasyarakatan/sosial, cinta ilmu, menghargai ilmu, menghargai guru, menghargai sesama, tolong-menolong, kejujuran, keberanian, bertanggungjawab  serta nilai-nilai lain yang boleh jadi berbeda antara satu sama lainnya sesuai dengan kekhasan masing-masing pesantren.

Pesantren Sebagai Miniatur Masyarakat:

Secara terminologi menurut Abdurrahman Wahid, pesantren adalah tempat di mana santri tinggal.  Mahmud Yunus, mendefinisikan sebagai tempat santri belajar agama Islam. Definisi tersebut menunjukkan betapa pentingnya sosok pesantren sebagai sebuah totalitas lingkungan pendidikan dalam makna dan nuansanya secara menyeluruh. Secara lebih rinci Imam Zarkasyi, mengartikan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama atau pondok, di mana kiai sebagai figur sentralnya, mesjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya, dan pengajaran agama Islam di bawah bimbingan kiai yang diikuti santri sebagai kegiatan utamanya.

Secara singkat pesantren bisa juga dikatakan sebagai laboratorium kehidupan, tempat para santri belajar hidup dan bermasyarakat dalam berbagai segi dan dimensi kehidupan  Maka  tidak heran jika pesantren disebut sebagai miniatur masyarakat, karena kegiatan yang ada di pesantren kalau diperhatikan merupakan suatu proses pembelajaran sekaligus pengamalan nilai-nilai keagamaan dengan berbagai tantangan dan proses penyelesaiannya. Kepemimpinan dalam komunitas pesantren terlihat berfungsi sebagai “pemimpin” yang senantiasa membina, mengayomi dan mengarahkan anggotanya, ada fungsi kontrol dan wibawa dalam kepemimpinan yang tergambar dalam kehidupan sosial pesantren.

Kehidupan berasrama (pondokan) para santri juga sangat mendukung bagi pembentukan kepribadian. Di dalam asrama memungkinkan untuk mempraktikkan apa-apa yang telah dipelajari. Nilai-nilai agama yang secara normatif dipelajari di kelas, dapat dilatihkan untuk disosialisasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan begitu dimungkinkan mereka tidak hanya menjadi having tetapi being.

Nilai-nilai yang dikandung dalam segala kegiatan pesantren meliputi nilai kemasyarakatan, ketrampilan, kewarganegaraan, kepemimpinan, dan nilai-nilai moral. Dari sini dapat diharapkan tercapainya pengembangan dan pembinaan sikap sosial di bidang kepemimpinan, koperasi, partisipasi, dan tanggung-jawab. Perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan penilaian kegiatan-kegiatan santri dilaksanakan oleh santri sendiri secara self-government melalui wadah organisasi-organisasi yang ada. Tentu saja semua ini berlangsung dengan bimbingan intensif dan efektif dari para pengasuh pesantren dalam rangka mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah ditetapkan.

PPKn Ala Pesantren:

Seperti yang dimaklumi bersama, untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan kewarganegaraan kepada  generasi penerus bangsa ini dikenalkan melalui Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) sejak dini kala, dimulai pada jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi yang dikenal dengan kewiraan. Tujuannya tiada lain untuk membina peserta didik agar menjadi warga negara yang baik, berperilaku baik dan berbudi pekerti.

Melalui materi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan digali nilai, norma, moral, sikap dan perilaku yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan, pemahaman, sikap dan penghayatan serta pengamalan nilai-nilai budi pekerti, yang pada gilirannya menjadi nilai yang disepakati sebagai karakter bangsa.

Dalam konteks kepesantrenan apa yang menjadi tujuan pembelajaran PPKn pada tataran pengamalan dan penghayatan nilai nampaknya bukan suatu yang asing terlebih pada wilayah nilai kerohanian; nilai kebenaran, nilai kebaikan (moral), nilai keindahan dan nilai religius. Walaupun nilai-nilai tersebut bersumber dari ajaran Islam namun karena sifatnya yang universal akan sejalan dengan nilai luhur bangsa mana pun. Sampai di sini dapat dikatakan bahwa nilai-nilai yang dikembangkan dengan pola pendidikan yang dianutnya pada hakikatnya merupakan upaya pembentukan karakter yang sekaligus penanaman dan pengamalan nilai-nilai moral Pancasila.

Untuk sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa pengajaran dan penanamannya terdapat dalam berbagai kajian keislaman di pesantren, konsep iman, ilmu dan amal, akidah, syariah dan akhlak, adalah kelompok materi keagamaan yang berisikan tuntunan bagaimana seharusnya beragama secara individual dan sosial, bagaimana hubungan antara manusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan sesamanya dan antara manusia dengan makhluk lainnya. Hal ini jika ditelusuri secara lebih mendalam bisa terlihat mata rantai perilaku sebagaimana yang dikehendaki butir-butir sila berikutnya.

Adapun model penyajiannya kepada para santri –dilakukan juga oleh santri– sangat variatif, walaupun tidak secara tekstual disebutkan sebagai pelajaran PPKn, tapi secara nilai telah dapat tersampaikan. Ambil contoh pada berbagai pagelaran yang disajikan santri baik melalui teater, puisi maupun opera, hampir dapat dipastikan bertemakan perjuangan dan kebangsaan. Tema-tema kebangsaan dan keindonesiaan itu selalu saja dikemas dalam bentuk perjuangan untuk mewujudkan keadilan, kemerdekaan, serta anti kesewenang-wenangan. Dalam berbagai pertunjukkan  santri dapat disaksikan kibaran bendera merah putih, bambu runcing dan simbol-simbol perjuangan lainnya.

Agenda peringatan hari kemerdekaan juga selain diisi oleh upacara karena kesadaran sendiri masyarakat pesantren dan bukan karena adanya instruksi dari pihak pesantren, juga dihiasi dengan sejumlah kegiatan yang mengingatkan akan arti pentingnya merdeka dan bernegara bagi para santri. Selain juga sebagai ungkapan suka cita dan kesukuran atas ini’mat aman dan merdeka, biasanya berbentuk perlombaan-perlombaan.

Kebinekaan juga disajikan dalam bentuk keragaman budaya, suku bangsa dan bahasa, dalam pawai pekan perkenalan di beberapa pesantren biasa menampilkan satu barisan bernama barisan bineka tunggal ika, pasukan ini mengusung lambang negara burung garuda diikuti oleh barisan yang mengenakan pakaian daerah yang mewakili suku bangsa yang ada di Indonesia. Masih dalam rentetan perkenalan juga diadakan malam kesenian daerah yang berisikan penampilan berbagai kesenian daerah asal santri. Tidak cukup sampai di situ bahkan ada juga sutau kegiatan yang disebut demonstrasi bahasa, di sini para santri menampilkan berbagai macam bahasa dalam bentuk penuturan lisan atau pidato.

Tradisi bermusyawarah dan mufakat dibina melalui pendidikan keorganisasian, mereka belajar memimpin, bermusyawarah, merumuskan dan menyusun aturan-aturan internal pesantren serta berusaha juga mewujudkannya dibarengi dengan penerapan aturan tersebut, dari sini para santri belajar menegakkan aturan, mengevaluasi, serta belajar juga bertanggungjawab.

Maka berbicara tentang penanaman nilai-nilai Pancasila dari sudut ini bagi pesantren dianggap sudah selesai, bukan saja sebatas pada menjadi warga negara yang baik dalam arti mikro sebagai anggota masyarakat, tapi warga negara dalam arti yang lebih luas sebagai pemimpin, pengusaha pejabat pembuat kebijakan, pengajar, dan pengayom masyarakat. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan di pesantren adalah PPKn berbasis kegiatan santri; sebuah kegiatan yang bisa menampilkan ke-Indonesiaan dengan cara yang lebih berdimensi banyak.

Pancasila Kita:

Namun harus disadari juga warga negara yang baik dan karakter bangsa  di sini bukan saja masyarakat sebagai rakyat yang terkena, tapi beberapa lapisan warga negara seperti, penguasa, buruh, pengusaha, TNI, Polri, PNS, pelaku media, anggota dewan dan majelis serta lainnya  juga merupakan target yang terkena tujuan ini. Karena sering kali permasalahan kebangsaan muncul justru pada lapisan warga negara yang menduduki tingkatan paling atas laksana sebuah piramida.

Maka agenda berikutnya dalam penanaman nilai Pancasila adalah memilah target sasaran, apakah rakyat sebagai warga negara dan rakyat sebagai calon pemimpin bangsa. Ada pembekalan wawasan yang berbeda ketika dihubungkan dengan penanaman ideologi misalnya antara calon DPR atau pejabat pemangku kepentingan dengan wawasan kebangsaan yang belaku bagi masyarakat umum. Masyarakat umum tidak ikut berperan dalam pembuatan kebijakan dan regulasi, mereka cukup merasa terwakili ketika sudah memiliki wakilnya di parlemen.

Berkenaan dengan lahirnya rumusan Pancasila yang merupakan proses panjang dari pembentukan suatu negara, di sini ada negosiasi dan kompromi, ada bahasa mengakomodasi berbagai komponen bangsa baik ras maupun agama, maka nilai sejarah dari proses ini yang harus diangkat dan disosialisasikan secara jujur dari generasi ke generasi, dari satu angkatan ke angkatan berikutnya, tanpa adanya usaha menutupi sejarah, sehingga siapa menyumbangkan apa dalam pembentukan negara ini betul-betul dipahami oleh setiap generasi dari berbagai kalangan –Negara Paripurna karya Yudi Latif bisa menyajikan proses pembentukan dan penggalian butir-butir Pancasila ini terasa lebih hidup.

Agenda terbesar adalah merasa sebagai Indonesia, ungkapan rasa kebangsaan ini dengan sangat apik diuraikan oleh penyair seperti Gombloh pada tahun delapan puluhan dalam syairnya yang berjudul kebyar-kebyar yang sungguh sangat mendalam  maknanya:

Indonesia …Merah Darahku, Putih Tulangku Bersatu Dalam Semangatmu.

Indonesia …Debar Jantungku, Getar Nadiku. Berbaur Dalam Angan-anganmu

Kebyar-kebyar, Pelangi Jingga….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *