Ramadhan Kita: Musim Ibadah, Perjuangan dan Pahala

 Oleh: M. Tata Taufik

Pengantar:

Ternyata kehidupan manusia suka membuat musim, ada yang mengelompokkannya dalam musim panas, musim dingin, musim gugur dan musim semi. Dalam pertandingan sepak bola juga manusia membuat musim, musim pertandingan yang bisasanya dilihat dari tahun dan liga yang diselengarakan oleh penyelenggara tetentu.

Maka tidak salah jika banyak penjelasan tentang Ramadhanjuga dikembangkan istilah musim, musim amal kebaikan, musim ibadah dan musim menuai pahala dan musim banyaknya kesempatan untuk diterima/dikabulkan do’a. Sebagai mana haji juga merupakan musim tersendiri. Pengalaman keberagamaan biasa disebut religiousness, yaitu suatu pengalaman yang dirasakan seseorang ketika dia mengamalkan ajaran agamanya. Puasa Ramadhan merupakan amalan ibadah bagi kaum muslimin tentu saja akan melahirkan suasana keberagamaan tersendiri yang dapat dirasakan oleh pelakunya.

Dalam perjalanan hidup beberapa tahun yang sudah lalu, penulis mengamati berbagai macam ceramah keagamaan yang disampaikan oleh beberapa penceramah. Dari sejumlah ceramah yang terdengar, ada beberapa perbedaan yang mendasar ketika ceramah itu disampaikan seusai ibadah Ramadlan, katakanlah pada bulan Syawal, baik konten maupun cara penyampaian ceramah yang disampaikan setelah bulan puasa itu cenderung lebih merupakan cerminan hati, terbebas dari subyektifitas penceramahnya serta lebih terasa bersemangat dan bisa diterima, jika di banding dengan ceramah yang disampaikan pada bulan-bulan yang jauh sesudah Ramadhan (pada beberapa kasus).

Hal ini dapat dipandang bahwa pemateri lebih bersih dirinya dari berbagai kepentingan, murni menyampaikan ajaran yang ditemukannya serta lebih ikhlash dalam menyampaikannya kepada khalayak. Bisa juga dipandang bahwa para audien juga lebih siap menerima berbagai materi ceramah dengan hati yang bersih dan semangat mencari kebenaran yang prima. Tentang Pintu Surga Dibuka dan Pintu Neraka Ditutup:

Pada bulan Ramadhan pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup serta setan diikat Sebagaimana diungkapkan dalam hadis Rasulullah saw bersabda: Jika datang bulan Ramadlan, pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, serta setan diikat. Hadis dari Abi Hurairah ini diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim. Hal ini menggambarkan kondisi bulan Ramadhansaat umat Islam melaksanakan ibadah puasa, pada bulan ini umat Islam diberi banyak kesempatan untuk melaksanakan berbagai amalan ibadah dan kebaikan/amal sholeh. Sehingga baginya terbuka lebar pintu surga, dengan diwajibkannya berpuasa.

Seperti yang diketahui bahwa puasa merupakan peribadahan yang pahala langsung diberikan oleh Allah SWT bagi pelakunya. Semua amal ibadah adalah untuk hamba-Ku kecuali puasa, ibadah tersebut untuk-Ku demikian yang disampaikan Allah melalui Rasul-Nya. Siapa yang melakukan ibadah puasa karena iman dan karena mengharap pahala dari Allah, maka baginya ampunan atas dosa-dosanya yang lalu. Dengan ketentuan bahwa puasa yag baik selain meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa juga meninggalkan perkataan bohong.

Puasa bisa menjadi perisai bagi pelakunya untuk melindungi dirinya dari perbuatan yang membawanya kepada neraka, sehingga pintu neraka seakan tertutup dengan puasanya yang baik itu, dan setan terikat sehingga tidak mampu menggodanya atau menyeretnya ke neraka. Dalam konteks ini ada beberapa amalan yang bisa dan biasa dilakukan seorang mu’min, yakni dengan melakukan i’tikaf dan qiyaamu Ramadlan. I’tikaf maksudnya diam di mesjid dengan niat dan sifat tertentu. Niat i’tikaf di mesjid kemudian duduk sambil membaca al-Qur’an atau baca tasbih, tahlil dan berdzikir. Adapun qiyamu Ramadhan artinya menjalankan shalat malam di bulan Ramadlan. Siapa yang menjalankan shalat malam di bulan Ramadhan dengan motivasi keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah maka baginya ampunan bagi dosa-dosanya di masa silam (hadis Mutafaq alaih).

Al-Shaalaatu Aadah Wa Al-Shaumu Jalaadah:

Ada ungkapan al-Shalaatu al-Aaadah wa al-Shaumu Jalaadah wa al-Diinu al- Mu’aamalah, artinya bahwa shalat merupakan kebiasaan, puasa merupakan kesabaran, dan agama secara keseluruhan merupakan tata cara bermasyarakat. Ada juga ungkapan senada yang dinisbahkan kepada Ali Ibn Abi Thalib: al-Shalaatu al-Aaadah wa al-Shaumu Jalaadah Inama Yu’rafu al-Rijaal fi al-Furuuj wa al-Maal, shalat merupakan kebiasaan, dan puasa merupakan kesabaran, seseorang bisa dilihat dari auratnya dan hartanya (ujilah seseorang dengan perempuan dan harta). Akan datang suatu saat, shalat hanya menjadi kebiasaan, dan puasa hanya merupakan kesabaran (menahan makan dan minum) orang kaya berhaji untuk wisata dan orang fakir berhaji untuk bekerja (cari rizqi) dan para qari membaca al-Qur’an untuk riya dan cari nama belaka.

Pernyataan di atas penulis dengar ketika masih kecil senantiasa setiap 1 Ramadhan pak Kyai selalu menyampaikan pesan ini. Mungkin maksudnya supaya semua bisa berisi, baik shalat, puasa maupun haji serta baca al-Qur’an semua kegiatan bagus tersebut tidak menjadi tradisi belaka, tapi lebih dari itu supaya memiliki makna yang terhayati oleh pelakunya.

Pertama shalat, jangan hanya menjadi kebiasaan semata yang kosong dari peran dan fungsinya, perannya sebagai penvegah perbuatan keji dan perbuatan mungkar, fungsinya sebagai sarana berdu’a dan meditasi untuk berkomunikasi dengan Allah SWT hubungan antara makhluk dengan Khaliknya. Disadari dalam shalat ada pujian terhadap yang Maha Kuasa, ada permohonan dan harapan segala kebaikkan dunia akhirat.

Kedua puasa, bukan hanya sebatas mampu menahan lapar dan dahaga di siang hari tapi juga harus memiliki makna; makna ketaatan kepada Allah SWT, nampaknya titik berat amaliyah puasa adalah ketaatan, landasannya adalah keimanan dan harapannya adalah mendapat pahala dari Allah SWT. Ihtisab di sini yang terpenting yaitu mengharapkan hanya pahala dari Allah semata, bukan dari yang lain.

Ketiga, haji juga demikian jangan dicampuri niatan sebagai wisata, ataupun tijarah perdagangan, tapi sebagai ketaatan menjawab seruan Allah SWT. Keempat baca al-Qur’an, sebagaimana diungkapkan jangan sebatas untuk mendapatkan pandangan dan pujian manusia yang merupakan makhluk Allah, tapi harus tertuju kepada untuk mendapatkan pahala dari Allah. Dalam baca al-Qur’an jika dibarengi pemahaman akan mendapatkan hidayah, cahaya serta pembeda antara yang haq dan yang bathil. Secara individu bisa berarti sedang membina diri agar senantiasa berjalan di atas jalur hidayah. Secara umum dapat juga berperan memperdengarkan ayat-ayat Allah kepada sesama, sehingga yang mendengar bisa mendapat rahmat Allah SWT. Maka membaca al-Qur’an bisa berarti sharing rahmat Allah kepada sesama.

Semuanya itu jika diteliti terletak pada niat yang baik dan peletakan tujuan suatu perbuatan yakni menggapai pahala dari Allah SWT semata. Mengisi Ramadalan Menurut QS 2. 183-187:

Pada ayat 183 dari surat al-Baqarah dikemukakan tentang perintah wajibnya puasa dengan mengungkapkan bahwa kewajiban tersebut bukanlah hal baru, karena kewajiban puasa juga telah diwajibkan kepada umat sebelum umat Islam, dengan tujuan utamanya agar pelakunya mencapai derajat taqwa. Puasa ini dijalankan selama satu bulan yaitu bulan Ramadlan, kemudian dijelaskan tata cara berpuasa (ayat 184) bahwa bagi mereka yang sakit atau sedang dalam perjalanan dibolehkan berbuka, tapi wajib menggantinya di hari yang lain sesuai dengan jumlah puasa yang ditinggalkannya. Sedangkan bagi yang tidak sanggup melaksanakannya bisa diganti dengan membayar fidyah, yaitu memberimakan seorang miskin. Dengan memberikan catatan bahwa berpuasa lebih baik.

Kemudian pada ayat 185 dijelaskan bahwa puasa yang diwajibkan itu adalah di bulan Ramadlan, bulan saat diturunkannya al-Qur’an. Sebagai petunjuk bagi manusia, serta merupakan penjelasan dari petunjuk itu, sebagaimana diketahui abhwa la-Qur’an menjelaskan halal-haram, serta membedakan yang haq dan bathil. Selanjutnya ayat tersebut menjelaskan ulang tata cara puasa, serta kewajiban menggantinya bagi yang meninggalkan karena alasan sakit atau alasan dalam perjlanan, dengan penegasan bahwa kebolehan berbuka itu sebagai kemudahan yang diberikan Allah. Setelah itu diteruskan dengan perintah untuk menyempurnakan puasa satu bulan lalu di akhir Ramadhandianjurkan untuk bertakbir, takbir sebagai ungkapan syukur atas berbagai petunjuk yang diberikan Allah. Artinya bentuk kesyukuran atas petunjuk itu dengan cara mengagungkan Allah.

Selanjutnya pada ayat 186 dijelaskan kedekatan Allah dengan makhluknya, dan dijelaskan juga bahwa Allah akan mengabulkan segala permintaan hamba-Nya. Kemudian pada ayat 187 dilanjutkan juga penjelasan tambahan tetang tata cara puasa, bahwa malam hari di bulan Ramadhandiperbolehkan bagi suami menggauli istrinya. Ini sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sekitar boleh tidaknya pergaulan suami istri di malam hari. Kemudian dijelaskan juga tentang cara berpuasa dan beri’tikaf. Bahwa saat i’tikaf di mesjid tidak seorang suami tidak boleh memeluk istrinya. Yang menarik adalah munasabah dari susunan ayat di atas, setelah menjelaskan wajibnya berpuasa, dilanjutkan dengan penjelasan tata cara puasa dan dipilihnya bulan Ramadhansebagai bulan yang diwajibkan puasa, karena pada bulan ini memiliki nilai luhur yaitu bulan diturunkannya petunjuk bagi manusia.

Ada banyak jawaban yang diberikan atas berbagai pertanyaan yang muncul di sini, seakan pertanyaan kenapa wajib puasa? Kenapa di bulan Ramadlan? Bagaimana kalau sakit atau dalam perjalanan? Bagaimana jika ada yang sama sekali tidak mampu berpuasa karena lanjut usia misalkan? Seusai puasa Ramadhanlalu bagaimana? Apa saja yang dilakukan di bulan ini selain puasa? Jawabannya dengan banyak berdo’a, berdo’anya seperti apa? Apakah Allah itu jauh atau dekat sehingga berdu’a harus bersuara lantang atau cukup dengan munajat saja (tanpa suara)? Kalau berdu’a pasti dikabulkan atau tidak?

Kemudian pada ayat berikutnya sebagai jawaban atas pertanyaan bahwa du’a pasti dikabulkan dengan dijawabnya harapan-harapan yang berpuasa (kaum muslim saat itu bertanya-tanya tentang ini) bahwa mereka diperbolehkan melakukan hubungan suami istri di malam harinya. Pertanyaan lain bagaimanakah baiknya mengisi bulan Ramadhanselain dengan berdo’a? Dijawab dengan i’tikaf di mesjid sebagai suatu kegiatan lain dan semuanya ditekankan sebagai sarana untuk taqwa dan bersyukur kepada Allah atas segala ni’mat-Nya dan ni’mat besar adalah hidayah.

Sosialisai Sifat dan Perangai Muslim:

Dalam al-Qur’an surat al-Fath: 29 disebutkan ciri-ciri muslim yang baik: “Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka nampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu menjadikan tanaman itu kuat kemudian menjadi besar di atas tangkainya, tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya (orang-orang mu’min) dan menjadikan orang-orang kafir jengkel oleh kekuatan mereka. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dari mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Suatu yang harus disosialisasikan dalam konteks Ramadhan ini adalah sifat-sifat orang mu’min yang beriman bersama Nabi Muhammad Rasulullah SAW, yakni mereka keras terhadap orang kafir dan saling mengasihi sesama mereka. Mereka juga seperti yang terlihat ruku dan sujud dalam shalat mereka untuk mendapatkan kemuliaan dari Allah dan keridhaan-Nya. Ada tanda dari ketaatan dan ibadahnya yang nampak terlihat di wajah mereka.

Keras Terhadap Orang Kafir: Sifat ini mencerminkan wibawa dan kekuatan kaum muslimin suatu yang melahirkan rasa segan dan miris bagi orang-orang kafir; orang kafir melihat mereka akan merasa jengkel dan takut. Inilah sikap para sahabat nabi yang hidup bersama beliau ada semangat kekeluargaan di kalangan mereka sesama muslim dan ada sikap tegas terhadap mereka yang kafir. Maksudnya menurut Ibnu Katsir bahwa orang mu’min itu akan murah senyum dan penyayang serta berseri-seri di hadapan sesama muslim, namun orang kafir akan melihatnya sebagai orang yang keras, seram dan menakutkan. Ayat ini juga menjadi dalil bahwa tidak boleh membenci para sahabat. Menurut para ulama barang siapa yang membenci sahabat nabi maka ia telah kafir. Ruku dan Sujud: Mereka dapat disaksikan melakukan ruku dan sujud bersama nabi untuk mendapatkan kemuliaan dari Allah dan keridhaan-Nya. Ini dia yang harus dikembangkan rajin beribadah yang diungkapkan dalam bentuk shalat untuk mendapatkan kemuliaan dan keridhaan Allah semata. Jadi target utama dalam beribadah baik ruku maupun sujudnya seorang hamba adalah untuk menggapai kemuliaan dan ridha Allah SWT.

Tanda di Muka: Ada tanda ketaatan yang bisa dilihat dari air muka, ada cahaya, ada keramahan, ada ketegasan ada keberanian dalam kebenaran, ada sikap baik ada kehusyuan dan tawadlu’. Menurut para ulama bekas dari shalat seseorang di malam hari akan nampak di wajahnya di siang hari. Rasulullah SAW bersabda barang siapa yang banyak shalat di malam hari akan baik wajahnya di siang hari. Sebagian ulama menyatakan bahwa kebaikan akan membuahkan cahaya dalam hati pelakunya dan akan memancarkan sinar di wajahnya, serta melapangkan rizkinya dan membangkitkan kecintaan di hati sesama manusia. Utsman ra menyatakan: tidak ada suatu perbuatan yang disembunyikan seseorang kecuali Alah akan menampakkannya di wajah mereka dan dalam ucapan mereka tanpa disengaja. Umar ra menyatakan: siapa saja yang memperbaiki tingkah-lakunya yang tersembunyi maka Allah akan memperbaiki tingkah-lakunya yang nyata. Jadi keluhuran budi pekerti dan perangai baik serta segala sifat positif yang muncul dalam diri seseorang itulah tanda orang-orang yang baik ruku dan sujudnya.

Membangun Semangat Kolektif:

Pada bulan Ramadhan umat Islam secara serentak melakukan peribadahan yang sama, yaitu puasa, mereka juga menyelenggarakan qiyamu Ramadhansecara serentak, semuanya menunjukkan aktifitas jamaah. Semoga saja kegiatan-kegiatan Ramadhandengan segala model kebaikan yang dibangun dapat membangkitkan semangat kolektif umat Islam.

Kalau diperhatikan sehari-hari, kita sering menemukan bahwa kegiatan keagamaan yang sifatnya kolektif agak terancam. Contoh semangat kebersamaan dalam shalat (shalat jamaah) kian memudar, kini rumah-rumah dilengkapi mushala, sehingga pemilik rumah merasa sudah berjamaah jika mereka sudah shalat berjamaah hanya bersama anggota keluarganya, anak, istri dan bapaknya. Padahal shalat jamaah yang dianjurkan itu lebih mengarah pada pembentukan semangat kebersamaan, kesatuan dan kepedulian. 27 derajat keutamaan shalat jamaah merupakan rentetan dari kegiatan yang dihasilkan dalam proses berjamaah, mulai dari wudlu, berangkat ke mesjid, masuk mesjid, menjawab adzan, menunggu imam, membaca doa masuk mesjid, berdu’a antara adz n dan iqamah, mendengarkan iqamah, bertakbiratul ihram bersama iman, mengikuti gerakan imam, mengucapkan salam kepada yang berada di kanan dan kiri kita. Itulah rentetannya. Seusai shalat ada tegur sapa sesama jamaah lain, saling bersalaman dan seterusnya. Maka shalat berjamaah sampai di sini, nampak merupakan sarana pembentukan semangat kolektif umat Islam.

Pada bulan ini gerakkan jamaah digalakkan di sana-sini, harapannya semoga semangat kolektif bisa terwujud, terlebih dengan adanya gerakkan berpuasa bersama, sehingga terasakan kesamaan rasa, tidak ada kaya miskin, semua merasakan dahaga dan lapar, semua merasakan ketaatan yang sama terhadap Allah SWT. Menunjukkan komunitas yang satu, satu rasa satu tujuan dalam mencapai ridha Allah SWT. Yang harus kita coba upayakan kembali hadir dalam budaya dan peradaban kita sekarang adalah bagaimana mempasilitasi supaya tradisi berjamaah tumbuh kembali, kembalikan shalat ke mesjid bersama orang lain bergabung bersama, mengaminkan du’a-du’a bersama, hasrat dan keinginan bersama, insyaallah jika dilakukan secara bersama akan lebih bermakna ketimbang dilakukan sendiri-sendiri. Gerakan kita saat ini adalah deindividualisasi agama sebagai titik balik dari proses yang sedang berjalan. Semoga!