Ramadlan, Media dan Kita

Oleh: M. Tata Taufik*

Bulan suci Ramadlan akan segera tiba, siapa yang lebih siap menghadapinya, jawabannya biro iklan dan media (terutama media tv) lebih tanggap terhadap kehadiran bulan suci ummat Islam tersebut. Berbagai program dan tayangan telah disiapkan lebih awal, jauh-jauh sebelum bulan Ramadlan tiba, tayangan berbau Islam mulai bermunculan seperti sinetron (Titipan Ilahi, Hikmah dll) opera iklan dengan story edisi khususnya juga telah mengarah kepada kehadiran bulan puasa, sebut saja iklan sirup, obat, permen dan produk-produk lainnya.

Meriah nampaknya kalau kita perhatikan layar kaca tersebut, seakan tv milik kita sebagai muslim, namun dari sudut lain akan nampak betapa gencar serbuan yang dilakukan media sehingga format Ramadlan pun sudah diagendakan. Pelaku media telah lebih awal men-set program bulan puasa kita (bulan beribadah) menjadi bulan dengan sederetan program tayangan yang jauh-jauh telah diperkenalkan, hingga keterikatan kita (baca audience) terhadap tayangan tersebut telah utuh saat bulan penuh rahmah itu tiba. Detik demi detik telah disusun programnya, dari menjelang saur hingga menjelang buka puasa sampai sahur lagi.

Permasalahan tersebut menyangkut tiga hal seperti yang penulis angkat sebagai judul tulisan ini, pertama adalah media , kedua kita dalam perannya sebagai audience ketiga bulan suci Ramadlan.

Kesiapan Media:

Media sebagai institusi bisnis di satu sisi dan institusi informasi serta hiburan di sisi lain dituntut untuk cerdas membaca kemauan audiences (para pemirsanya) berbagai program harus bisa “memuaskan” sasaran, tentu saja hal itu berkaitan erat dengan sosio kultural yang berlaku dimasyarakat. Kultur Ramadlan misalnya dihubungkan dengan rasa lapar (bagi penderita maag) sarung baru, sejadah baru serta baju baru —sebagai persiapan lebaran, rasa haus, mekan manis -manisan dihubungkan dengan gula, sirup dan semisalnya. Hal tersebut ditambah lagi dengan nuansa religious keislaman sehingga tayangan-tayangan media dituntut untuk berbau Islam, pesan-pesan religious mulai ditampilkan dalam berbagai program, dari infotainment sampai pada program sahur.

Ada tiga sasaran media dalam hal ini; pertama kepuasan audiences dalam konteks Indonesia diatas 80 % muslim, yang kedua pelayanan terhadap biro iklan , dan yang ketiga sisi ekonomi media.

Kepuasan audiences; dalam rangka mengikat audiennya sebuah institusi media harus bisa memuaskan mereka dari berbagai segi, sehingga tercapailah ratting tertinggi dari institusi tersebut dalam merebut audien (perhatian masyarakat penggemarnya). Untuk mencapai ratting tersebut ancang-ancang program telah dibuat sedemikian rupa hingga pada giliran Ramadlan tiba institusi tidak kehilangan penggemarnya. Maka berbagai tayangan yang bernuansa religious telah disiapkan dengan sempurna oleh kalangan media, dengan harapan mitranya dari dunia periklanan bisa men-support program mereka dan ini berhubungan dengan ekonomi media.

Layanan terhadap biro iklan; Biro iklan akan mencari ratting program tertinggi dalam hal meraih audiences termasuk institusi media yang paling tinggi. Konsep yang digunakan media dalam hal ini adalah bagaimana ia bisa “menjual” audiennya kepada mitranya. Kehidupan media sangat bergantung pada tayangan-tayangan iklan yang ia sajikan, semakin banyak iklan yang didapat semakin mapanlah ekonomi media. Jadi tiga hal tersebut di atas sangat berkaitan erat; ratting media dan ratting program, biro iklan dan ekonomi media.

Program Ramadlan:

Bila demikian adanya lalu dihubungkan dengan bulan suci Ramadlan, nampaknya sangat mengasyikkan untuk didiskusikan, pertanyaannya adalah bagaimana program Ramadlan yang seharusnya menurut ajaran Islam? Sudahkah ada setting program yang kita buat sejalan dengan bulan suci Ramadlan, untuk menandingi kesiapan media? Atau mungkinkah Ramadlan kita diprogram oleh pelaku media?

Seorang muslimah dari Algeria mengajukan pertanyaan kepada pengasuh Islam Online.net, edisi 5 Oktober 2004, pertanyaannya begini:Bagaimana caranya agar kita bisa mengajak anak untuk bertadarus dan memperbanyak ibadah di bulan Ramadlan, soalnya bagi mereka bulan Ramadlan itu hanya sekedar menahan lapar dan haus saja”. Pertanyaan ini menarik untuk disimak karena menunjukkan adanya kehendak dari orang tua untuk mengajak anaknya bertadarus dan meningkatkan ibadah di bulan suci, ini artinya bahwa telah ada suatu “nilai” yang dianut tentang bagaimana mengisi bulan suci Ramadlan. Selain berarti juga bahwa ada kesulitan dalam menghadapi anaknya untuk bisa selaras dengan “nilai ideal” Ramadlan. Tapi juga berarti ada pemikiran kearah persiapan menghadapi bulan suci, tentunya seperti yang terbaca dari pertanyaannya mempersiapkan sebuah kegiatan buat anaknya.

Pertanyaan tersebut dijawab oleh pengasuh dengan sangat sederhana; “buat Ramaldan menyenangkan, positif dan berisikan pengalaman menarik bagi ana-anak, berikan cerita-cerita dari Al-Qur’an yang menarik seperti cerita nabi Ibrahim dan lainnya hingga terasa menyenangkan dan sajian nilai Al-Qur’an lebih bisa diterima oleh anak. Yang utama adalah menciptakan iklim rumah yang baik sehingga bisa mencapai tujuan lainnya yang lebih baik” (www.islamonline.net/Tarbia/english/).

Belajar dari kasus di atas nampaknya perlu ada persiapan menjelang bulan suci Ramadlan, terlebih dahulu upaya yang harus dilakukan adalah mendefinisikan Ramadlan. Banyak keterangan yang sering kita dengar tentang Ramadlan, ia adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, hingga disebut bulan Al-Qur’an, bulan penuh rahmah dan magfirah, bulan yang awalnya rahmah, pertengahannya magfirah dan akhirnya adalah keterbebasan dari neraka, bulan yang didalamnya terdapat malam lailatul qadar yang nilai ibadah di dalamnya sama dengan seribu bulan. Berbagai sebutan di atas merupakan gambaran sifat dari keutamaan bulan Ramadlan. Sampai di sini Ramadlan bisa kita sebut sebagai bulan untuk lebih giat beribadah, beramal, dan mengingat Allah SWT.

Dalam suatu diskusi di Elsaf pada tahun 88 an Haidar Baqir pernah mengatakan teori metamorphose artinya berkepompong untuk mencapai perubahan bentuk, bagaikan ulat yang berpuasa dalam kepompong hingga akhirnya keluar dari bentuknya yang menjijikan menjadi kupu-kupu yang indah menawan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa bulan Ramadlan adalah bulan saat ummat muslim “berkepompong” untuk menjadi manusia yang lebih baik dibanding dengan sebelumnya. Artinya saat mujahadah, pembersihan diri dan pembinaan diri hingga keluar dari Ramadlan nanti bisa “tampil beda”, lebih baik bahkan pantas untuk terlepas dari api neraka sebagaimana diajarkan Rasul SAW.

Dari pengertian ini maka setiap individu muslim pada bulan Ramadlan nampaknya harus sudah mencanangkan program-programnya, secara sederhana saja tradisi yang ada di masyarakat muslim Indonesia pada umumnya memiliki kegiatan Ramadlan yang sudah cukup bagus: tadarus (latihan membaca Al-Qur’an) yang diakhiri dengan khataman Al-Qur’an; Shalat Tarawih berjamaah di mesjid. Kegiatan ini lumrah dilaksanakan dipelosok negri ini. Kalau ini masih dapat dipertahankan saja mengisi mesjid dan mushala-mushala, sudah cukup bagus. Kedua tradisi religius ini biasa dilaksanakan antara jam 19.00 s/d 21.00 minimal, selain itu ada tradisi lain yang akhir-akhir ini dikembangkan; muncul sekitar tahun 80 an yaitu ceramah ba’da subuh, sementara bagi anak-anak —sejak dulu kala— kebahagiaan Ramadlan disisi oleh kegiatan belajar agama serta belajar membaca Al-Qur’an ba’da ashar atau ba’da dzuhur. Tradisi ini kemudian berkembang dengan munculya studi intensif keislaman, pesantren kilat yang biasa diselenggarakan sekolah-sekolah dan lainnya, serta diskusi-diskusi yang sifatnya umum dan buka bersama yang biasa diselenggarakan oleh komunitas atau kalangan tertentu.

Gambaran kegiatan tersebut merupakan perwujudan dari kesiapan dan pandangan muslim terhadap bulan suci Ramadlan, sekaligus menunjukkan ada suatu frame kegiatan atau setting program yang biasa dilakukan selama bulan penuh berkah tersebut.

Selain setting program yang berlaku secara umum di masyarakat serta dikelola secara kelembagaan (mesjid, mushala, sekolah, d) kalau melihat pertanyaan yang diajukan muslimah Algeria di muka, bisa juga ada setting program yang digagas oleh keluarga muslim berkenaan dengan bulan suci ini. Suatu keluarga bisa saja mencanangkan berbagai agenda kehidupan keseharian anggota keluarganya mulai dari subuh sampai subuh lagi secara cermat, membaca Al-Qur’an, setiap ba’da shalat misalkan, menghapal surat-surat pendek, membaca buku-buku keislaman, bercerita (membacakan kisah-kisah teladan) sambil menunggu saat berbuka puasa dan lainnya sampai pada tataran ini kreatifitas keluarga dituntut.

Kita yang Aktif:

Dihadapan kita ada media, ada biro iklan, ada bulan Ramadlan. Tak diragukan lagi bahwa kehidupan manusia di abad 21 ini tidak bisa melepaskan diri dari ketergantungannya kepada media, dunia dewasa ini dipenuhi oleh berbagai media sperti televisi, radio, film, surat kabar, majalah, buku serta media lainnya yang semuanya bisa diakses kapan dan di mana saja, oleh siapa saja. Media menjadi suatu yang tak terelakkan sebagai produk peradaban modern. Ia bisa menemui siapa saja dan menyampaikan informasi baik yang dikehendaki maupun yang tidak dikehendaki. Stanley J. Baran (Self, Symbols, and Society, 1984,h,1) mengawali tulisannya tentang media sebagai berikut: ” The mass media play a large and growing role in how we spend our time and live our lives, as we devote more time to interacting with the mass media: television, news paper, radio, film, magazines, and books, our environments change. We experience things vicariously or indirectly and people around us share those experience and have others of their own”.

Sehubungan dengan ini ada kasus menarik saat sebuah institusi tv diprotes oleh massa karena tayangan Inul Daratista, jawaban pengelola media tersebut cukup sederhana saja; “sekarang kan ada remote control, kalau tidak suka yang tinggal pindah channel,” pernyatan tersebut sejalan dengan apa yang diungkapkan studi empirik terhadap prilaku audience, Klapper (1960) menyatakan bahwa pengaruh mass media sangat terbatas. Yang kemudian dikembangkan oleh pendukung uses and gratifications studies, dengan teorinya bahwa para pemirsa itu aktif, dan berbagai macam keinginan dan kebiasaan mereka sangat berpengaruh terhadap respon mereka kepada media. (James Curran, etal, Culture Society And The Media,h, 12) sejalan dengan Stuart Hall ada tiga ttipe audiences; dominant (emyetujui apa kata media), oppositional (oposisi terhadap informasi dari media), negotiated (tawar menawar dengan informasi yang diberikan media).

Dalam kondisi tak terelakkan dari media di satu sisi dan kehadiran Ramadlan di sisi lain, maka sikap kita terhadap media barang kali yang harus diubah, katakanlah dari posisi pemirsa pasif menjadi aktif, keaktifan berdasarkan uses (kebiasaan Ramadlan) yang kita miliki sebagai mana diungkap di muka, aktif membuat program bukan menjadi sasaran program, selektif dalam memilih informasi bukan menelan semua informasi, selektif memilih hiburan dan tontonan, tanpa harus merubah setting agenda Ramadlan kita.(Mitra Dialog Sabtu, 23 Oktober 2004)