MODEL PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BAHASA ARAB/INGGRIS DI PESANTREN*

Oleh M. Tata Taufik

 

Pengantar:

Pembelajaran bahasa Arab bagi ummat Islam merupakan suatu agenda pendidikan keagamaan. Pandangan ini berjalan sudah demikian lama sejak awal penyebaran Islam ke wilayah-wilayah non Arab. Hal tersebut sejalan dengan keyakinan keagamaan ummat Islam serta pengamalan berbagai peribadahan yang semuanya berbahasa Arab, serta sumber-sumber ajarannya yang juga menggunakan bahasa Arab: al-Qur’an, al-hadits, dan buku-buku reperensi keagamaan dalam berbagai bidang kebanyakan ditulis dalam bahasa Arab.

Kelahiran beragai ilmu kebahasaan juga sangat berhubungan dengan upaya pemahaman terhadap ajaran Agama secara benar dan beralasan. Kaidah-kaidah kebahasaan disusun berdasarkan studi atas al-Qur’an dan al-hadits tersebut melahirkan ilmu-ilmu seperti nahwu, sharaf, balaghah, al-arudh yang berkembang sejak awal Islam, terutama pase Daulah Umayah .[1]Setelah it uterus berkembang pada masa Abasiyah, muncul nama-nama seperti al-Khalil Ibn Ahmad (170 H), Sibawaih (180 H).

Pengajaran berbagai ilmu kebahasaan tersebut dilaksanakan di mesjid-mesjid seperti Basrah dan Kufah. Tradisi pengajaran di mesjid tersebut terus berkembang hingga masa sekarang dengan mnengambil bentuk pesantren –di Indoensia—yang mesjid merupakan sentral kegiatannya. Bukan saja tempat dan tradisi pembelajaran yang dikembangkan termasuk materi pembelajarannya juga tetap dipakai sebagaimana tradisi pembalajaran dahulu, seperti studi nahwu,sharaf, dan studi ilmu-ilmu agama lainnya yang tercantum dalam kitab –kitab “kuning”, seperti fiqih, ushul dan aqidah dll. Sehingga nampak suatu paket kurikullum pembelajaran pesantren terdiri dari ilmu-ilmu kebahasaan (Arab) dan ilmu-ilmu keislaman.

Kitab kuning yang di-aji di pesantren itu pada dasarnya adalah kitab-kitab yang materinya dianggap relevan dengan tujuan pesantren sendiri, yakni mendidik dan mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam, sebagai upaya mewujudkan manusia yang tafaqquh fi al-din. Kendati pola pendidikan yang diselenggarakan di pesantren cukup beragam, fungsi yang diemban pesantren tidak keluar dari itu. Kesamaan tersebut dapat dilihat dari jenis-jenis bidang aji (bidang kajian) yang diajarkan di pesantren. Hampir seluruh pesantren di tanah air mengajarkan bidang aji yang sama, yang dikenal dengan ilmu-ilmu keislaman. Bidang kajiannya meliputi ilmu-ilmu terapan, yang sering digolongkan ilmu-ilmu yang fardlu ‘ain, yang mencakup: Aqidah, Tajwid (al-Qur’an), Fiqih, Akhlaq-Tasawuf, dan Ilmu Alat (Bahasa Arab, yang biasanya mencakup: Nahwu atau sintaksis, Sharaf atau morfologi, dan Balaghah); dan ilmu-ilmu yang berguna dalam mengembangkan wawasan seperti: Mantiq, Ushul Fiqh, Tafsir, Ilmu Tafsir, Hadits, Ilmu Hadits , dan Tarikh Islam. Hanya saja perhatian terhadap kelompok ilmu yang terakhir ini memang masih terbatas dan belum merata.[2]

Setelah tahun 1926 ada upaya baru yang dikembangkan di dunia pesantren, terutama dalam pengembangan pembelajaran bahasa Arab. Pola baru tersebut ditandai dengan perbaikan metodologi pembelajaran bahasa Arab yang dipandang modern saat itu, ia lebih berorientasi pada tujuan (tahsiil) dan memakai bahan ajar yang sederhana, serta menterapkan metodologi (al-thariqah al-Mubaasyirah) dalam pengajaran bahasa Arab.

Pada paparan berikut akan diuraikan kerangka kerja penterapan berbagai metodologi pengajaran bahasa Arab yang dikembangkan di pesantren pasca berbagai pembaharuan tersebut.[3]

Penciptaan Lingkungan:

Model yang dikembangkan di pesantren seperti yang penulis lakukan adalah dengan menciptakaan biah (lingkungan) yang memungkinkan para santri menemukan suasana pembelajaran dengan kondisi yang mendukung terselanggaranya kegiatan pembelajaran. Prinsipnya sederhana; apa yang didengar, dilihat, dan dilakukan dalam lingkungan tersebut memiliki “nilai” dan “tujuan” pendidikan serta pembelajaran.

Kegiatan ini kalau dilihat dari sudut methodologi ta’lim al-lughah al-Arabiyah masuk dalam kerangka khal-qu al-bii’ah[4]. Sehingga berbagai stimuli dan respon bisa di dapat oleh siswa yang mempelajari bahasa. Contoh kerjanya adalah dengan membuat berbagai kondisi soaial yang mendukung pendidikan; seperti guru hanya berbahasa sesuai dengan bahasa yang dipelajari, demikian juga dengan murid-muridnya. Selanjutnya dibuat berbagai etiket (label) pada benda-benda, pengumuman, nama-nama kantor/ruangan, koran dan majalah dengan bahasa yang dipelajari.

Dari sudut metodologi pembelajaran penciptaan lingkungan ini sudah masuk pada penterapan;metode syam’yah safawiyah dan bashariyah serta metode al-Mubasyirah. Bisa juga sebagai akibat langsung dari penggunaan kedua metode tersebut.

Tadribat:

Berbagai latihan diperbanyak terutama dalam al-muhadatsah dan al-Kitaabah al-Insyaa’iyah, yang intinya para siswa diberi motivasi untuk mengungkapkan berbagai pengalamannya dalam bentuk tulisan secara langsung dengan bahasa Arab, bukan dengan menterjemahkan, begitu juga dalam muhadatsah.

Kekayaan Bahasa:

Seseorang mampu berbicara dalam bahasa asing bila ia menguasasi minimal 500 kata sehari-hari. Jadi kekayaan bahasa (kosa kata) harus senantiasa dibina, untuk itu ada pemberian kosa kata pada setiap harinya, sekaligus latihan pengunaannya. Kosa kata ini akan bertmbah dengan sendirinya jika anak dimotivasi untuk membaca berbagai buku (tulisan) dalam bahasa yang dipelajari.

Sebagai Ilustrasi kegiatan tersebut dapat dilihat dalam jadwal berikut:

Jadwal Kegiatan Harian:

No Jam Kegiatan
1 04.00-05.30

 

1. Bangun tidur

2. Salat Subuh berjam’ah.

3. Penambahan kosa kata (Arab atau Inggris)

4. Membaca al-Qur’an

 

2 05.30-06.00 Olahraga

Mandi

Kursus-kursus bahasa, kesenian, ketrampilan, dll.

3 06.00-06.45 Makan pagi

Persiapan masuk kelas

4 07.00-12 .30 Masuk kelas pagi
5 12.30-14.00 Shalat Zuhur berjamaah

Makan Siang

6 14.00-15.00 Masuk kelas sore
7 15.00-15.45 Shalat Ashar berjamaah

Membaca al-Qur’an

8 15.45-16.45 Aktivitas bebas / olahraga
9 16.45-17.15 Mandi

Persiapan ke Mesjid

10 17.15-18.30 Shalat Magrib berjamaah

Baca al-Qur’an

11 18.30-19.30 Makan Malam
12 19.30-20.00 Shalat Isya berjamaah
13 20.00-22.00 Belajar malam
14 22.00-04.00 Istirahat dan Tidur

 

Dari Jadwal di atas dapat terlihat seperti baca al-Qur’an dilakukan dengan prekuwensi yang lumayan, hal itu dimaksudkan menciptakan uadara Arab dengan al-Qur’an sebagai bahan bacaannya. Aktifitas yang bisa didapat oleh siswa adalah kemampuan menganalisa kata perkata al-Qur’an, membaca dan melatih telinga untuk mendengar lapal-lapal bahasa Arab selain bernilai ibadah.

Jadwal Mingguan:

No Hari Kegiatan
1 Sabtu Tidak ada perubahan dari jadwal harian
2 Ahad Pagi hari sesuai jadwal harian

Pagi hari seperti jadwal harian, malam hari, setelah Jama’ah `Isya’ ada latihan pidato (muhadharah) dalam Bahasa Inggris untuk kelas I-IV, kelas V acara diskusi, dan kelas VI menjadi pembimbing untuk kelompok-kelompok latihan pidato.

3 Senin Tidak ada perubahan dari jadwal harian
4 Selasa Pagi hari, sesetelah jama’ah subuh, latihan percakapan bahasa Arab/Inggris, dilanjutkan lari pagi wajib untuk para santri.

 

5 Rabu Tidak ada perubahan dari jadwal harian
6 Kamis Dua jam terakhir pelajaran pagi digunakan untuk latihan pidato dalam bahasa Arab. Siang, jam 13.45-16.00, dipakai latihan Pramuka. Malam hari, jam 20.00-21.30 ada latihan pidato dalam bahasa Indonesia.
7 Jumat Pagi hari ada kegiatan percakapan dalam bahasa Arab/Inggris dan dilanjutkan dengan lari pagi wajib untuk para santri. Setelah lari pagi diadakan kerjabhakti membersihkan lingkungan kampus. Selanjutnya acara bebas.

 

Perlu sedikit diterangkan mengenai kegiatan mingguan di atas:

  1. Latihan pidato

Latihan pidato diadakan 3 kali seminggu, masing-masing untuk bahasa Inggris, Arab, dan Indonesia, di bawah bimbingan santri kelas VI. Latihan pidato ini ditangani oleh Bagian Pengajaran dan guru-guru pembimbing. Santri dibagi dalam kelompok-kelompok terdiri dari lebih kurang 40 orang. Tiap-tiap kelompok itu dibagi lagi menjadi beberapa kelompok kecil lebih kurang 8 orang untuk memudahkan penggiliran tugas berpidato ataupun piket menyiapkan dan membersihkan ruangan. Tiap-tiap anggota kelompok yang mendapatkan tugas berpidato untuk bahasa tertentu menulis persiapannya dalam buku khusus untuk kemudian diserahkan kepada pembimbing latihan pidato untuk dikoreksi. Setelah dikoreksi buku dikembalikan ke pemiliknya untuk dibaca dan dihapalkan guna dipidatokan pada waktu yang telah ditentukan.

  1. Lari Pagi dan Latihan Percakapan Arab/Inggris

Lari pagi diadakan seminggu dua kali: Selasa dan Jum’at. Seusai Salat Subuh santri langsung berganti pakaian olahraga, kemudian secara per kamar dan per asrama menuju tempat yang telah ditentukan. Sebelum lari pagi mereka mengadakan latihan percakapan bahasa Arab/Inggris dengan topik dan teks yang sebelumnya telah dibagikan, di bawah pengawasan bagian penggeraka bahasa dan bagian penggerak bahasa di asrama-asrama.[5]

Kegiatan Tahunan:

Kegiatan-kegiatan ini lebih merupakan penunjang untuk keberhasilan belajar siswa. Program ini meliputi:

  1. Fath al-Kutub: Kegiatan ini adalah latihan membaca kitab (terutama kitab klasik) untuk kelas V dan VI, sebagai wahana menguji kemampuan mereka—setelah mempelajari Bahasa Arab hingga kelas V dan VI. Santri diberi tugas untuk membahas persoalan-persoalan tertentu dalam akidah, fiqih, hadis, tafsir, tasawwuf, dll., serta kemudian membuat dan menyerahkan laporan tertulis mengenai hasil kajiannya kepada guru pembimbing. Kegiatan ini berlangsung seminggu.
  2. Fath al-Mu’jam: latihan dan ujian membuka kamus berbahasa Arab untuk meningkatkan ketrampilan dan kemampuan berbahasa Arab santri, terutama dalam menelusuri dan mencari makna kosa kata.
  3. Amaliyat al-Tadris, yakni praktek mengajar untuk siswa kelas 6. Program ini diselenggarakan sebagai berikut:
    1. Diadakan pengarahan-pengarahan amaliyah ini, 2 hari.
    2. Dilanjutkan dengan ulangan-ulangan tertulis dan langsung dikoreksi mengenai seluruh materi ilmu pendidikan dan didaktik-metodik pengajaran, 1-2 hari. Ulangan ini untuk mendalami materi dan sekaligus menentukan santri-santri yang akan mengadakan praktek mengajar pertama kali, berbadasarkan rangking nilai ulangan.
    3. Penunjukkan siswa-siswa yang akan praktek mengajar pertama, untuk kemudian membuat SATPEL, di bawah bimbingan guru senior.
    4. Amaliyah dilaksanakan berdasarkan kelompok-kelompok yang telah ditentukan. Seluruh anggota kelompok dan pembimbing ikut masuk ke dalam ruang kelas tempat praktek mengajar untuk mengamati dan mengevaluasi jalannya proses pengajaran.
    5. Seusai praktek mengajar diadakan forum evaluasi/kritik. Seluruh anggota kelompok dan pembimbing, juga guru yang praktek itu sendiri, menyerahkan lembaran evaluasi/kritik yang telah ditulis kepada pembimbing utama, untuk kemudian dibacakan satu-persatu hinga selesai. Ini biasanya berlangsung 2 hari. Evaluasi/kritik diberikan ke keseluruhan gerak-gerik dan kegiatan guru selama mengajar, termasuk cara menyampaikan pertanyaan, cara menulis, dll., tetapi yang lebih dipentingkan adalah kritik terhadap metode dan sistematika pengajaran. Kritik yang ditulis itu harus diberi bukti tertulis juga, jika tidak, tidak akan diterima.

Penuup:

  1. singkat di atas memberikan gambaran pola pembelajaran bahasa Arab yang bisa dilakukan di pesantren. Dengan catatan bahwa bahan ajar yang ada dipesantren —-apapun modelnya —- telah cukup memadai untuk dikembangkan hanya tinggal memanage kegiatan yang bisa mendukung keseriusan dalam pembelajaran bahasa; kitab kuning yang ada misalnya selain dijadikan materi agama juga dipandang sebagai materi pembelajaran bahasa, yaitu mumarastsah kutub dan kalam arabiyah, yang merupakan faktor terpenting dalam belajar bahasa; termasuk didalamnya mengenal pola susunan kata, pola budaya penuturan dan penyajian tulisan. Kemudian dari sudut Ibda’i-nya diadakan latihan penulisan berbagai hal dalam bahasa Arab. Untuk latihan nutqi baik di adakan munaqasah atau bahsul masaa’il dalam bahasa Arab. Selamat mencoba.

 

Al-Ikhlash Senin, 12 Juni 2006

 

 

*Makalah pada pelatihan pengajaran bahasa Arab Pesantren se Indonesia 7-16 Juli di Jkt

[1]Amin, Ahamd, Fajru al-Islam, Cet 11, 1975, h, 140-169. Tersebutlah nama Dzalim Ibn ‘Umar al-Du’ali pencetus ilmu nahwu, dilanjutkan oleh Nash Ibn ‘Ashim dan Yahya Ibn Amar, pada masa khalifah Abd malik Ibn Marwan. Lihat al-Wasiith fil Adab ‘Arabi wa Tarikhihi, Ahmad al-Iskandari dan Mushtafa Amin, h, 122-123

[2]Abdul Fatah, Rahadi at all, Rekontruksi Pesantren Masa Depan, Jakarta:Lista Pariska Putra,Jakarta, 2004 , h, 29

[3]Pembaharuan ini sebetulnya bukan hal yang baru karena Ibn Khaldun (1332-1406) telah menyatakan bahwa bahasa itu merupakan kemampuan yang spontan (malakah) dan mempelajarinya tidak dengan mempelajari babagaimana malakah itu bisa dicapai tapi dengan melaksanakan proses terjacapainya malakah itu (praktek) (bukan ilmu bil-kaifiyah tafi nafsulkaifiyah) yaitu bagaikan orang yang belajar menjahit, tidak dengan mengetahui bahwa menjahit itu memasukkan benang ke jarum dst , tapi dengan mempraktekkannya) . Abdu rahman Ibn Khaldun, Muqadimah, (Beirut: Daar Al-Fikri, tanpa tahun), h,560

[4]Suatu yang diyakini harus ada dalam pengajaran bahasa Arab (asing) sebagai kelanjutan dari pendekatan behaviorisme.

[5]Ibid.h,121-126