Menuju Perdamaian Dalam Perspektif Islam[1]

Oleh: M. Tata Taufik

Memahami makna Islam:

Batasan apakah itu Islam kalau merujuk kepada judul-judul buku yang bertuliskan Islam hampir sulit dijumpai. Satu-satunya jalan untuk mengetahui batasan Islam adalah dengan merujuk kepada istilah yang dikemukakan oleh hadits dan buku akidah serta kamus dari sudut bahasa.

Secara bahasa Islâm berarti inqiyâd (patuh), Islâm dari syarî‘ah berarti menunjukkan ketundukkan dan prilaku syariah serta senantiasa melakukan apa yang dibawa oleh Nabi SAW, sehingga dengan keislaman itu darahnya dijaga dan hal-hal yang dibenci dihindari.

و الإسلام و الإستسلام : الانقياد، و الإسلام من الشريعة: إظهار الخضوع وإظهار الشريعة والتزام ما أتى به

النبي ص م ، وبذلك يحقن الدم ويسته فيع المكروه [2].

 

Ahmad Amîn memberikan pandangan lain, bahwa Islam adalah al-salâm al-musâlamah (damai), lawan katanya al-harbu wal al-khishâm. Artinya Islam berarti damai dan tidak mengajarkan kekerasan yang menyebabkan terjadinya peperangan dan pertengkaran.[3]Untuk itu Ahmad Amîn merujuk pada firman Allah SWT QS.25:63.

وعباد الرحمان الذين يمشون على الأرض هونا واذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلاما

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS.25:63).

Bagi Amîn, kata jâhilûn pada ayat di atas bukan lawan kata dari ’ilm sehinga berarti kebodohan, tapi lawan kata dari al-ghadlab, al-suffah dan al-anafah yang berarti amarah yang bisa memicu peperangan atau pentengkaran.[4]

Sejalan dengan pengertian yang diajukan Ahmad Amîn di atas, penulis memahami hadits Rasul SAW:

أفشوا السلام و أطعموا الطعام و صلوا الأرحام وصلوا بالليل و الناس نيام تدخلوا االجنة بسلام

Terjemahnya harus berarti “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah perdamaian (salâm) —tidak sebatas pengertian ucapkanlah salam— berilah makan, sambungkanlah tali kasih sayang (shilatu al-rahimi), shalatlah malam hari saat semua orang tidur, niscaya engkau akan masuk surga dengan damai (Riwayat Ibn Mâjah bab Makanan).

Hadits di atas bisa dipahami sebagai norma sosial yang diajarkan Rasul SAW bila dilaksanakan bisa mendapatkan kebahagiaan bagi pelakunya. Norma sosial tersebut tercermin dalam sikap mewujudkan perdamaian di manapun seorang muslim berada, sikap suka memberi dan sikap menghubungkan tali silaturrahim, yang dipungkas dengan kegiatan pribadi; sholat malam. Empat prilaku tersebut bisa mendatangkan kebahagiaan dan berakibat pada Surga. Dengan kata lain semuanya merupakan jembatan bagi seseorang untuk masuk surga idaman.[5]

Sikap yang pertama adalah menyebar kedamaian, “kata salam” di sini penulis lihat bukan sekedar ucapan salam sebagaimana layaknya yang dilakukan seseorang jika saling bertemu, tapi ia lebih dalam lagi memberi makna pada ucapan “salam” yang senantiasa kita sampaikan. Anjuran untuk menyebarkan salam lebih luas maknanya ketika dihubungkan dengan kondisi sosial masyarakat, ini mengandung arti bahwa setiap pribadi muslim bertanggungjawab atas “suasana damai” di tempat ia tinggal, di tempat ia bekerja dan di tempat manapun.

Dalam perspektif ini keberdaan muslim harus bisa menciptakan suasana damai dan pelopor terselengaranya kedamaian. Sehinga apa yang diucapkan oleh setiap muslim ketika bertemu dan bertegur sapa menjadi kenyataan dan mewarnai kehidupan kesehariannya. Dengan demikian maka ucapan “assalamu’alaikum” selain mengandung do’a perdamaian bagi siapa saja yang ditemui, juga mengandung arti bahwa saya “bertemu kamu dengan membawa semangat perdamaian,” atau “aku datang dengan membawa kedamaian bagimu.”[6]

Tsa’labi menyingkat dengan kata: al-islâm bi al-lisân, wa-l- îmân bil qalbi. Ketika seseorang disebut muslim maka menurut Abu Bakar Muhammad Ibn Basyâr memiliki dua arti: pertama berarti orang yang menyerah dengan ikhlas kepada perintah Allah, dan kedua berarti orang yang ikhlas beribadah kepada Allah.[7]

Islam, Iman dan Ihsan:

Menurut hadits yang diriwayatkan ‘Umar ra berikut:

وعن عمر -رضي الله عنه- أيضا قال: بينما نحن جلوس عند رسول الله -صلى الله عليه وسلم-

ذات يوم، إذ طلع علينا رجل شديد بياض الثياب، شديد سواد الشعر، لا يرى عليه أثر السفر، ولا يعرفه منا أحد حتى جلس إلى النبي -صلى الله عليه وسلم- فأسند ركبتيه إلى ركبتيه، ووضع كفيه على فخذيه. فقال: يا محمد أخبرني عن الإسلام، قال: الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله، وتقيم الصلاة، وتؤتي الزكاة، وتصوم رمضان، وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا. قال: صدقت، فعجبنا له يسأله ويصدقه! فقال: فأخبرني عن الإيمان، قال: أن تؤمن بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، وتؤمن بالقدر خيره وشره. قال: صدقت. قال: فأخبرني عن الإحسان، قال: أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك. قال: فأخبرني عن الساعة، قال: ما المسئول عنها بأعلم من السائل. قال: فأخبرني عن أماراتها، قال: أن تلد الأمة ربتها، وأن ترى الحفاة العراة العالة رعاء الشاة يتطاولون في البنيان. ثم انطلق فلبثت مليًّا، ثم قال: يا عمر أتدري من السائل؟ قلت: الله ورسوله أعلم، قال: هذا جبريل أتاكم يعلمكم دينكم رواه مسلم.[8]

 

“Dari ‘Umar ra juga ia berkata: saat kami duduk bersama Rasul SAW pada suatu hari, tiba-tiba datang seseorang memakai pakaian putih, berambut hitam pekat, tidak nampak bekas perjalanan dari dirinya, tak seorangpun diantara kita yang mengenalnya, sampai ia duduk di hadapan Nabi berhadap-hadapan dan meletakkan tangannya di atas kedua pahanya lalu berkata: Hai Muhammad, ajari aku tentang Islam! Rasul menjawab: Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad Rasul Allah, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, berhaji ke baitullah jika engkau bisa melakukan perjalanannya. Lalu orang itu berkata: engkau benar, maka kami heran karena orang itu bertanya dan membenarkan Nabi.

Lalu orang itu berkata lagi: Ajari aku tentang Iman! Nabi menjawab: Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya dan beriman kepada hari akhir, serta beriman kepada qadar baik maupun qadar buruk. Orang itu berkata: Engkau benar!

Lalu orang itu bertanya tentang Ihsan: Nabi menjawab: Engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak mampu melihatnya sesungguhnya Ia melihatmu. Lalu orang itu berkata lagi: Ajari aku tentang hari kiamat! Nabi menjawab: Yang bertanya lebih tahu dari yang ditanya. Lalu bertanya lagi: ajari aku tanda-tandanya! Nabi menjawab: Jika seorang budak perempuan melahirkan tuannya, jika engkau melihat orang-orang miskin meninggalkan pekerjaan aslinya –seperti mengembala kambing—dan memburu kemewahan dunia dengan membangun rumah-rumah yang indah. Kemudian orang itu pergi. Lalu Nabi bertanya kepada ‘Umar, apakah engkau tahu siapa yang bertanya? ‘Umar menjawab: Allah dan Rasulnya lebih tahu. Nabi berkata: Itulah Jibril mengajarkan agama kepada kalian” (HR.Muslim).

 

Dari hadits di atas nampak bahwa ada tiga komponen dasar dalam agama Islam yang satu sama lainnya saling berhubungan: Iman, Islam dan Ihsan. Iman berhubungan dengan kepercayaan kepada Allah serta berbagai berita yang diberitakan Allah baik berupa berita tentang kerasulan, malaikat, kitab-kitab terdahulu, serta berita tentang hari akhir dan qadar (ketentuan/ukuran) baik atau buruk yang dialami manusia. Sedangkan Islam lebih merupakan serentetan “kegiatan” yang didasari atas kesaksian (iman); dibuktikan dengan pelaksanaan kegiatan ibadah seperti shalat, puasa, zakat, serta haji. Ketiga adalah Ihsan, yang berarti kesungguhan dan kesempurnaan perilaku serta kesadaran akan adanya Allah yang melihat prilaku setiap orang (syu’ûr bi-l-murâqabah).

Mencakup pengertian Islam dari hadits di atas adalah apa yang ditulis Sayyid Sabiq: “Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, dan ia adalah agama yang berintikan keimanan dan perbuatan. Keimanan merupakan akidah dan pokok yang di atasnya berdiri syariat Islam. Kemudian dari pokok itu keluarlah cabang-cabangnya. Perbuatan itu merupakan syariat dan cabang-cabang yang dianggap sebagai buah yang keluar dari keimanan serta akidah itu.”[9]

Sampai di sini tergambar bahwa Islam merupakan sebutan untuk agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW serta merupakan syariah (kaidah peribadahan serta tingkahlaku peri kehidupan) dibangun atas kepercayaan kepada Allah SWT. serta berita-berita lain yang dibawa oleh Rasul melalui pewahyuan. Sebutan Islam ini telah diperkenalkan oleh Ibrahim AS sebelumnya.

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

 

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu], dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong. (QS. 22:78)

Memilah-milah tindakan, motivasi bertindak dan nalar:

Pengertian di atas mengandung arti bahwa berbagai tingkahlaku, karsa serta pemikiran seorang muslim yang berdasarkan pada tuntunan syariat Islam dan dasar keimanan merupakan wujud dari keislaman dan keimanan yang bisa dinisbahkan kepada Islam.[10] Hanya saja ada pemilahan tindakan apakah ia merupakan tindakan yang baik atau mengada-ada. “…Sebaik baik hadits adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah SAW dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan…” Demikian potongan hadits yang diriwayatkan Jâbir.[11]

Mengenai motivasi berkarya dan berkarsa dalam pembentukan tradisi Islami misalkan tercermin dalam ungkapan “ barang siapa yang membuat tradisi baik, maka baginya pahala kebaikan dan pahala orang yang melakukan tradisi tersebut, begitu sebaliknya barang siapa yang membuat tradisi tidak baik, maka baginya dosa dan dosa yang mengikutinya…”[12]

Berbagai “kelonggaran” dalam berkarsa dan berkarya yang diajarkan Islam menuntut seorang muslim untuk menggunakan nalarnya dalam bertindak.

  1. berarti melakukan sesuatu, melakukan sesuatu karena, atau melakukan sesuatu untuk tujuan tertentu. Jadi suatu perbuatan yang dilakukan karena alan-alasan tertentu, atau perbuatan sengaja dilakukan untuk mencapai taraf atau tahapan tertentu. Selain tindakan juga bisa diartikan perbuatan yang dilakukan atas nama seseorang, bisa juga berarti tindakan karena termotivasi sesuatu.[13]

Pernyataan Rasulullah SAW mengomentari isu hijrahnya seseorang karena motivasi individual sangatlah erat dengan paradigma tindakan Islam: “sesungguhnya setiap perbuatan itu memiliki motivasi dan niat tertentu, barang siapa yang niat dan motivasi hirjahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka ia berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena perempuan, maka ia hanya mendapatkan apa yang diniatkannya” (HR. Bukhari dan Muslim). Motivasi tindakan ini barangkali yang membuat keleluasaan bertindak bagi seorang muslim selama tujuannya untuk menjunjung tinggi agama Alllah.

وعن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب -رضي الله عنه- قال: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه .

Ketika dihubungkan dengan “Keislaman,” maka paradigma (kerangka) tindakan yang dipakai adalah kerangka keislaman. Jadi seorang muslim bertindak harus berdasarkan pada kaidah-kaidah umum yang bersifat universal. Untuk kemudian dihubungkan dengan partial-partial yang lebih khusus (menterjemahkan kaidah-kaidah umum yang Islam pada realitas sosial maupun individual). Kaidah-kaidah tentang keadilan, kejujuran, kesederhanaan, keberanian, etos kerja, amanah, kritis (prinsip tawâshaw bilhaq dan tawâshaw bi shabr), amar ma’ruf dan nahi mungkar, misalkan semuanya merupakan kaidah umum yang bisa dijadikan dasar bagi upaya-upaya perjuangan untuk mewujudkan keadilan, kampanye kejujuran, anti korupsi dan seterusnya.[14]

Respon terhadap realitas dalam bimbingan Al-Qur’an dan al-Sunnah:

Apa yang bisa dijadikan objek tindakan? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan melihat realitas. Kenyataan yang dihadapi manusia senatiasa menjadi stimuli untuk bertindak (sebagai respons). Karena kehidupan bagaikan gugusan antara stimuli dan respon.

Berbagai temuan di dalam kehidupan sosial maupun individual tersebut merupakan rangsangan untuk bertindak. Realitas sosial apa saja bisa dijadikan sebagai objek tindakan; keadilan sosial, keadilan ekonomi, patalogi sosial, pemerataan pendidikan dan lain-lain semuanya bisa dijadikan objek tindakan. Hakekat keberadaan seseorang akan terlihat dalam posisi dan perannya dalam suatu kehidupan sosial tertentu —bahasa haditsnya: “Sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi manusia lain.” Hadits hasan riwayat al-Qadhâ’i.[15]

Selain temuan dalam realitas sosial, ada juga temuan dalam realitas yang bersifat individual. Realitas sosial akan melahirkan tindakan yang bersifat sosial juga, sebagaimana realitas individual akan melahirkan tindakan individual.

Objek tersebut akan sangat ditentukan oleh kepekaan dan kepedulian terhadap realitas, hal ini erat sekali hubungannya dengan kemampuan berfikir kreatif; mengubah yang lama menjadi nampak baru atau mencipta suatu yang baru. Suatu realitas bisa saja sangat berarti bagi seseorang atau bagi kelompok terntentu, namun dinilai tidak berarti bagi individu/ kelompok lain. Yang membedakan “berarti atau tidaknya” suatu realitas adalah karena derajat perhatian dan kepekaan yang berbeda, interes dan latar belakang pengetahuan yang berbeda. Maka semakin peka dan tanggap seseorang terhadap apa yang ada di sekelilingnya, akan semakin mampu dia merumuskan logika tindakan apa yang bisa dilakukan; dalam arti yang sederhana –mampu bertindak cepat.[16]

Dalam kerangka berfikir logik dan positif tersebut kemudian para ulama menjalankan anjuran sunnah seperti tersebut di atas berusaha memegang teguh dua pusaka yang diwarisi dari Rasul SAW; Al-Qur’an dan Hidayah Rasul SAW yang kemudian disebut Sunnah. Seruan kembali kepada Al-Qur’an dan al-Sunnah senantiasa muncul ketika muslim menghadapi suatu agenda besar; kebangkitan, peradaban, dan pemurnian yang kadang juga melahirkan pro-kontra. Jamaluddin Al Afghani (1838-1897) pada tahun 1870an dengan Muhammad Abduh (1849-1905) mengumandangkan pan-Islamisme yang sangat berarti bagi gerak dan geliat keislaman di abad 19. Robert D. Lee (2000) mengumpulkan berbagai karakter gerakan pemurnian Islam mulai dari Iqbal (1877-1938) di India, ‘Ali Shari’ati, yang sejak tahun 1960an tulisan-tulisannya sangat berpengaruh di Iran maupun luar Iran. Sayyid Qutub seorang tokoh pergerakan di Mesir yang paling bisa –karena semangat perjuangan dan pengetahuannya—membahasakan Al-Qur’an sehingga pemikirannya sangat laku di kalangan mahasiswa termasuk di Indonesia hingga Muhammad Arkoun yang mencoba menawarkan metodologi pemahaman Al-Qur’an dengan pendekatan hermeneutik yang menghebohkan di tahun 1990an. Kegerahan intelektual di Dunia Islam ditambah lagi dengan kemunculan Nasr Hamid Abu Zaid yang melanjutkan penawaran metodologis penafsiran dari Arkoun.[17]

Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan menjadi kitab suci ummat Islam. Ia merupakan rujukan pertama ummat Islam setelah Nabi wafat, kemudian rujukan kedua diduduki oleh al-sunnah, lalu diikuti oleh pendapat para ulama. Secara bahasa: Al-Qur’an bentuk mashdar[18] dari qara’a, sama dengan qirâ’ah (QS.75:17-18). Secara istilah para ulama sepakat dengan pengertian: Kalam Allah yang dapat melemahkan lawan (al-Mu’jiz) diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Jibril ditulis dalam mushaf dan sampai kepada kita dengan riwayat yang mutawatir, serta membacanya dinilai ibadah, dimulai dari surat al-Fâtihah dan diakhiri surat al-Nâs.[19]

Rasul SAW menyipati Al-Qur’an sebagaimana yang diriwayatkan Tirmidzi berikut:

“Kitab Allah di dalamnya terdapat berita orang-orang sebelum kamu, dan berita apa-apa yang akan terjadi nanti, hukum tentang apa-apa yang terjadi di antara kamu sekalian, ia merupakan rincian ketentuan dan bukan permainan. Barang siapa meninggalkannya karena keangkuhan maka Allah akan menghancurkannya, dan barang siapa mencari petunjuk (hidayah) selain daripadanya, maka Allah akan menyesatkannya, ia adalah tali Allah yang kuat, ia juga peringatan yang sangat bijak, ia adalah jalan yang lurus, berasamanya keinginan (nafsu/ego) tidak akan tergelincir, bersamanya tidak akan ada ucapan yang rancu, ulama tidak akan pernah merasa puas untuk mempelajarinya, dan tidak akan bosan karena seringnya mengulang-ngulang bacaannya, keajaibannya tidak akan pernah habis, ialah kitab yang apabila mendengarnya Jin tidak akan berhenti sampai berkata: ‘Sesungguhnya kami mendengar Al-Qur’an yang penuh keajaiban, menunjuki kejalan yang benar maka kami beriman kepadanya…’ barang siapa berbicara dengan mendasarkan padanya pasti benar, barang siapa menjalankannya pasti diberi pahala, dan barang siapa menghukumi dengannya pasti adil, dan barang siapa menyeru kepadanya pasti akan ditunjuki ke jalan yang benar.”[20]

 

Adapun sunnah secara bahasa berarti sîrah atau prilaku apakah prilaku baik maupun buruk. Secara istilah berbeda-beda menurut pandangan para ulama sesuai dengan spesialisasi dan tujuan ilmu yang mereka geluti. Menurut para muhadits yang dimaksud sunnah adalah segala sesuatu yang dihubungkan dengan Rasul SAW baik dari perkataan, perbuatan atau persetujuan, atau sifat jasmani maupun sifat prilaku (khuluq) ataupun perjalanan hidupnya apakah sebelum kenabian atau sesudah kenabian. Sunnah dalam pengertian ini synonym hadits.[21]

Al-Qur’an adalah dasar dari syari’ah karena ia merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Rasul SAW yang berkewajiban untuk menyampaikannya kepada ummat manusia. Selain Al-Qur’an, yang datang dari Nabi SAW ialah hadits atau sunnah. Al-Qur’an adalah wahyu yang dibacakan (al-wahyu al-matluw) dan membacanya merupakan ibadah sedangkan hadits adalah wahyu yang tidak dibacakan (al-wahyu ghair al-matluw) serta membacanya tidak dikategorikan ibadah.[22] Maka keduanya menjadi sumber tasyr‘i yang saling berhubungan dan tidak bisa dipisahkan. Seorang tidak akan bisa memahami syari‘at kecuali dengan merujuk kepada keduanya secara bersamaan.

Selanjutnya para ahli hukum Islam menjadikan i’jma dan qiyâs sebagai sumber berikutnya menurut Fazlur Rahman, hubungan timbal balik antara keempat prinsip ini sangat membingungkan dan sulit untuk menjelaskannya.[23] Kalau dibahasakan secara sosiologis bisa dikatakan bahwa sumber syariah itu adalah Al-Qur’an dan al-Sunnah serta pendapat ulama —sebagai pemegang otoritas keagamaan—tentang suatu permasalahan dengan memedomani kedua sumber utama tadi. Adapun i’jma dan qiyâs adalah metodologi yang dipakai para ulama dalam mengambil istimbâth.

Dari sudut penafsiran Al-Qur’an bisa dilihat “letak” pendapat ulama dalam memahamkan Al-Qur’an kepada halayak. Adanya klasifikasi tafsir kepada bi al-ma’tsûr dan bi al-ra’yi[24] (tafsir dengan riwayat dan tafsir dengan pendapat akal mufasirnya) menunjukkan adanya pendapat ulama (komunikator keagamaan) yang bisa dijadikan pegangan bagi pengamalan syari’at; pola prilaku yang diberikan Tuhan untuk menjadi tuntunan bagi manusia.

Term Islam —dengan demikian— mencakup berbagai keterangan yang diambil dari Al-Qur’an dan al-Sunnah serta pendapat para ulama muslim dalam menyikapi berbagai persoalan dan perubahan sosial Islam. Pendapat para ulama bisa dipandang atau dinisbahkan ke Islam sebab apa yang dilakukannya dinilai usaha (ijtihad) untuk membahasakan kedua sumber syari’ah tersebut dalam kehidupan sosial sekaligus sebagai bukti keislaman dan kepeduliannya terhadap masalah-masalah ummat Islam.

Nuansa Kehidupan Internal Muslim:

Bagaimana perdamaian itu dibina dan dikembangkan dalam komunitas masyarakat muslim? Ini dapat ditemukan dalam berbagai firman Allah dalam al-Qur’an dan dalam sunah Rasul-Nya. Surat al-Hujurat misalnya sangat sarat dengan tatakarma dan panduan tingkahlaku antara sesama muslim, pada ayat 10 dan 11 jelas diungkapkan bagaimana memelihara persaudaraan antara sesama muslim.

Firman Allah SWT:

إنما المؤمنون إخوة فأصلحوا بين أخويكم واتقوا الله لعلكم ترحمون

 

Sesungguhnya saudara orang-orang mu’min hanya orang-orang mu’min, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. Untuk ayat 10 surat Al-Hujrat.

Dalam menjelaskan persaudaraan di sini para mufasir memberi penjelasan dengan mengutif Hadits Rasulullah SAW

عن أبي هريرة – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: لا تحاسدوا، ولا تناجشوا ، ولا تباغضوا، ولا تدابروا ، ولا يبع بعضكم على بيع بعض، وكونوا عباد الله إخوانا، المسلم أخو المسلم، لا يظلمه، ولا يخذله، ولا يكذبه، ولا يحقره، التقوى ها هنا، ويشير إلى صدره ثلاث مرات، بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم، كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه رواه مسلم

 

Rasul SAW bersabda, “Janganlah (kamu sekalian) saling menghasud, (spite) jangan saling menghalangi (menjegal kemajuan atau usaha orang lain, menipu dan saling mengakali fraud dealing) jangan saling membenci(hateful), jangan saling memutuskan (saling membelakangi,) dan janganlah menjual yang sedang dijual oleh temannya (menyerobot orang yang sedang bertransaksi, fraud dealing) dan jadilah hamba Allah yang saling bersaudara, seorang muslim adalah saudaranya sesama muslim: ia tidak menganiayanya (injustice), tidak megacuhkannya (attentive) (mencuekannya?), tidak membohongkannya (menuduh orang berbohong, suspicious, backbite) dan menghinanya(insult). Takqwa itu di sini (kata Rasul SAW sambil menunjuk dadanya tiga kali) cukuplah seseorang dinilai sebagai orang yang tidak baik jika ia menghina temannya sesama muslim, haram bagi setiap muslim darah, harta dan harga diri sesama muslim.

Dalam hadits di atas Rasul SAW melarang (larangan di sini berarti pengharaman) ummatnya untuk:

  1. Tahasud; maksud hasad adalah usaha mengingkari ni’mat yang diberikan Allah kepada seseorang, atau memiliki keyakinan bahwa seseorang tidak pantas mendapatkan ni’mat atau anugrah atau derajat yang dia dapati, sehingga di hatinya tertanam rasa untuk mengingkari ni’mat tersebut dan mencemooh serta mengajak orang untuk mengingkarinya—demikian menurut keterangan Imam Nawawi. Kalau dibahasakan menurut bahasa kita sekarang, hasad bias diartikan sebagai suatu sikap tidak suka atas keberhasilan orang lain, atau bisa juga disebut iri. Sikap ini diharamkan oleh Rasul SAW dan harus dijauhi oleh semua komponen masyarakat muslim. Adapun sikap sebaliknya seorang muslim harus bahagia atas keberhasilan dan kebahagiaan orang lain.
  2. Tanajus; artinya usaha menghalangi sesuatu (menjegal) suatu dengan tipu daya dan berbagai upaya merintangi sesuatu. Kalau disederhanakan berarti usaha tipu- menipu atau akal –mengakali serta tindakan curang dalam berbagai dimensi pergaulan (kegiatan sosial).
  3. Saling membenci; diharamkan juga sesama muslim untuk saling membenci. Termasuk di dalamnya perkataan dan perbuatan yang bisa melahirkan kebencian kepada orang lain (sesama) seperti tindakan provokasi dan hujat menghujat. Artinya semua perbuatan maupun perkataan yang menyebabkan permusuhan dan saling membenci diharamkan oleh agama, sebaliknya semua perbuatan dan perkataan harus mengarah pada kasih sayang dan persatuan serta saling sayang menyayangi.
  4. Tadabur; artinya secara bahasa saling membelakangi, dalam pergaulan berarti memutuskan silaturrahim. Diharamkan bagi muslim untuk berusaha memutus silaturrahim baik dengan ucapan maupun tindakan.
  5. Menyerobot transaksi jual-beli yang sedang berlaku, seperti dengan memberikan penawaran yang lebih tinggi atau lebih murah dengan maksud supaya menjual/membeli kepadanya dan membatalkan jual beli dengan yang lainnya.
  6. Tidak menzalimi (menganiaya); dzalim artinya meletakkan suatu bukan pada tempat semestinya atau hak yang sebenarnya. Perbuatan zalim bisa saja terjadi pada harta, pada nama baik, pada jiwa/jasad. Seperti ghibah (membicarakan kejelekkan orang lain) adalah tindakan zalim yang berhubungan dengan nama baik seseorang.
  7. Khadzal; maksudnya adalah mengacuhkan atau membiarkan sesama muslim yang membutuhkan pertolongan, bahasa sekarang cuek atau tidak peduli. Karena muslim adalah penolong bagi muslim lain

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

  1. Jangan menuduhnya berbohong; maksud hadits di atas menurut Nawawi, bahwa ولا يكذبه berarti mengatakan “kamu bohong” jika seseorang memberi kabar berita. Karena bagi seorang muslim tidak mungkin memiliki sifat pendusta, maka jika ada yang memberi berita kepada kita jangan langsung dicap “bohong” sebelum ada bukti kebohongannya.
  2. Tidak menghina; diharamkan seorang muslim menghina temannya muslim, apakah karena keturunannya, kebodohannya, karena daerahnya atau karena alasan apapun. Karena Islam datang justru untuk mengangkat derajat manusia dan tidak menghinakannya.

Pada ayat 11 disebutkan:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang yang beriman janganlah suatu kelompok mengolok-olok kelompok lain, karena boleh jadi mereka lebih baik dari kelompok itu, dan tidak juga kaum perempuan mengolok kaum perempuan lain (dipakai kata nisa secara khusus karena perempuan lebih suka melakakukan ini) karena boleh jadi mereka lebih baik dari yang mengolok-olok, dan janganlah kamu menghinakan diri kamu sekalian (saling) dan janganlah menghina dengan “panggilan” yang tidak baik; panggilan yang paling jelek adalah menyebut orang fasik padahal dia sudah beriman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat atas tndakaknnya itu maka ia termasuk dzalim. (Al-Hujrat 11)

Dalam konteks ukhuwah imaniyah seorang mu’min walaupun dinilai tidak sejalan sehingga berselisih dia tetap mendapat predikat mu’min. Sebagai ilustrasi bagaimana jawaban Ali ra ketika ditanya kenapa mereka memerangi muslim yang menyerangnya:

في هذه الآية والتي قبلها دليل على أن البغي لا يزيل اسم الإيمان، لأن الله تعالى سماهم إخوة مؤمنين مع كونهم باغين. قال الحارث الأعور: سئل علي بن أبي طالب رضي الله عنه وهو القدوة عن قتال أهل البغي من أهل الجمل وصفين: أمشركون هم؟ قال: لا، من الشرك فروا. فقيل: أمنافقون؟ قال: لا، لأن المنافقين لا يذكرون الله إلا قليلا. قيل له: فما حالهم؟ قال إخواننا بغوا علينا.

Dalam ayat ini (maksudnya ayat 9-10 al-Hujrat) adalah dalil bahwa al-bagyu (pembangkang/radikal?) tidak menghilangkan gelar iman, karena Allah SWT menamakan mereka ikhwah mu’miniin walau mereka berbuat membangkang, harits al A’war meriwayatkan ketika Ali ra ditanya (ia sebagai contoh dalam hal memerangi pembangkang) pada perang Jamal dan Shifin: apakah mereka kaum musyrik? Bukan, mereka jauh dari kemusyrikan, apakah mereka munafik? Bukan, kaerna kaum munafik tidak mengingat Allah kecuali sedikit saja, kenapa mereka diperangi? Saudara kita tapi menyerang kita.[25] Artinya jalan “keras” diambil oleh Ali ra karena mereka diserang.

Nuansa Kehidupan dengan Non Muslim:

Berkenaan dengan hubungan dengan sesama manusia non muslim al-Qur’an mengingatkan agar saling menghargai dan menghormati, bahkan tidak boleh menghina sesembahan mereka ini terlihat dari ayat surat al-An’aam 108

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يدعونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عدوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (108

Janganlah kamu sekalian mencaci apa- apa yang mereka sembah selain Allah sehingga mereka mencaci Allah atas dasar permusuhan tanpa didasari pengetahuan, demikian juga Allah menghiasi setiap ummat dengan perbuatan mereka kemudian kepada Tuhannalah mereka kembali hingga mereka akan diberi tahu perbuatan mereka.

Ayat ini merupakan respon terhadap tingkah laku muslim yang menghina berhala-berhala orang musyrik sehingga mereka membalas menghina Allah, maka turunlah ayat ini. Ini juga merupakan pelajaran bagaimana seharusnya seorang mu’min menyikapi dan bergaul dengan sesama manusia dalam hal agama yang berbeda, dalam surat al-kafirun juga di tegaskan bagaimana bersikap.

 

Penutup:

Dari paparan di muka dapat dipahami bahwa Islam adalah agama yang menyebarkan perdamaian, rasa ingin selalu berdamai, kehidupan yang damai, anti perselisihan, jika ada perselisihan disarankan agar diselesaikan dengan “hikmah” dengan jalan meminta petunjuk al-Qur’an dan al-sunnah. Perdamaian yang disuarakan Islam itu berlaku untuk internal muslim dengan segala tuntunannya yang detail (jika dipelajari) juga perdamaian untuk sesama ummat manusia dengan keragaman keyakinannya. Iman adalah akarnya Islam adalah peribadatannya dan Ihsan adalah kesempurnaan yang digapai tercermin pada tingkah laku yang terbaik yang bisa dilakukan seseorang. Wallahu ‘alam.

 

[1] Disampaikan pada Kajian Islam di Mesjid Syiarul Islam Kuningan 13 Oktober 2010

[2] Ibnu Manzûr Jamâlu al-Dîn Muhammad Ibn al-Mukram, lisân al-Arab, Jilid 12, (Beirut: Dâr al-Fikri, 1990) cet I, h, 293.

 

[3] Ahmad Amîn, Fajru al-Islâm, (Beirut: Dâr al-Maktab,1975) cet 11, h, 69.

[4] Ahmad Amîn, Fajru…,h.69.

 

[5] M.Tata Taufik, ”Langkah-langkah Menuju Surga” Gema MUI Edisi XVI, Jum’at 26 Rabiul Tsani 1427 H / 23 Juni 2006 M.

 

[6]M.Tata, “Langkah….” Gema MUI Edisi XVI.

 

[7] Dikutip dari Ibnu Manzûr, lisân al-Arab Jilid 12, cet I, h, 293.

[8] Syarhu matan arbaî’n al-nawahiyah, hadits ke 2, e-book.

[9] Sayid Sabiq, Aqidah Islam, terj, Moh, Abdil Rathomy, (Bandung: Diponegoro, 1985), cet VI, h, 15.

[10]Dalam kaitan ini ada penyaringan dengan sebutan bid’ah, mengada-ada dalam hal ritual keagamaan yang tidak bersumber pada sunnah Rasul SAW..

وعن أم المؤمنين أم عبد الله عائشة -رضي الله عنها- قالت: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد رواه البخاري ومسلم

[11]Hadits Riwayat Muslim, Bulûghu al-Marâm, h,98 .

[12]Ibnu Mâjah, Sunanu Ibn Mâjah, Kitab al-Muqadimah, bab, man sana sunatan hasanatan aw sayyiatan, hadits no 203.

 

[13] Bedakan Act on, act for, act on behalf of, act from. Lihat A.S. Horn, Oxford Advanced…,

[14] M.Tata Taufik, ”Logika (Tindakan) Islami,” Tsaqafah, Vol.3.No.1. 1427.H