Ikhlas & Ihtisab

Ada kesulitan memahami atau memahamkan kata ikhlas dalam beribadah. Ikhlas dalam pengertian bahasa yang berarti bersih, tidak dibarengi riya (dalam beribadah) terbebas dari kecurangan (dalam memberikan nasihat). Pertanyaannya bentuknya seperti apa? Mungkin akan dijawab dengan ungkapan lillahi ta’ala, untuk Allah karena Allah tapi tetap menjadi pertanyaan batasannya apa sehingga dikatakan lillahi ta’ala itu?

Nampaknya pelajaran dari hadits tentang puasa Ramadlan bisa membantu pengertian ikhlas yakni berarti mengharap pahala dari Allah semata atau menurut bahasa Arabnya ihtisab (mengharapkan hisab pahala dari Allah).

Diriwayatkan Abu Hurairah dari Nabi SAW bahwa ia bersabda:

من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا ، غفر له ما تقدم من ذنبه، ومن صام رمضان إيمانا واحتسابا ، غفر له ما تقدم من ذنبه

Barang siapa yang melaksanakan shalat malam di malam lailautul qadar karena iman dan (ihtisab) mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadlan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari).

Iman disini berarti membenarkan tentang kewajiban puasa Ramadlan, dan ihtisab berarti mengharap pahala dari Allah atas puasanya. Artinya memiliki kemauan keras untuk menggapai pahala dari Allah SWT dengan suka rela dan tidak merasa terbebani demikian diterangkan dalam Fathul Baari.

Jadi suatu amal diterima oleh Allah jika didasarkan atas iman, ihtisab dan ikhlas serta niat yang sungguh-sungguh.