Gendre Dakwah

Oleh: M. Tata Taufik*

Pengantar:

Pada suatu saat penulis mencoba berdiskusi dengan Hamid Mowlana (Professor and Director International Communication Program American University) tentang media massa, kebebasan pers dan peranannya dalam dakwah Islamiyah. Dalam e-mailnya professor menulis sebagai berikut: I am also somewhat skeptical about the promises delivered by the mass media in the context of Islamic religion and culture since modern mass media tend to be of a monologue rather than a dialogue and this is not compatible and harmonious with the Islamic precepts. I believe that Islamic societies as well as the governments of Islamic countries should make an attempt to create their own versions of information and communication orders, as well as developing professional and scholarly societies of their own in the field of communication, research, teaching, as well as journalistic endeavors.

Sikap skeptik Mowlana terhadap peranan pers dalam konteks dakwah Islamiyah memang masuk akal, sebagaimana kita juga bisa skeptis dengan tayangan-tayangan media, nampaknya tidak pernah sepi dari permaslahan, saat pornographi menjadi sosrotan, dengan kasus BCG (Buruan Cium Gue) misalkan serta sinetron dan tayangan bertemakan misteri juga menjadi perhataian publik, demikian juga halnya dengan tayangan kriminal, yang seakan membuat tindakan kriminal begitu nyata di hadapan mata.

Bagi Mowlana sifat media massa yang monolog paling menjadi perhatian, sebab akan menciptakan disharmoni antara media massa dengan persepsi Islam sebagai agama maupun budaya, namun itu juga bisa diformat jika ada kemauan dari masyarakat muslim berserta pemerintahannya untuk menciptakan orde baru dalam ranah jurnalistk dan media sejalan dengan kesiapan professional, penelitian dan pendidikan jurnalistik yang baik.

Tersirat dari pernyataan di atas bahwa ummat Islam memiliki pekerjaan besar dalam dunia media massa, yaitu penyiapan professional muda yang handal dalam lapangan media, kemudian penelitian dan pendidikan jurnalistik serta menciptakan suatu konsep media massa dalam konteks dakwhah Islamiyah.

Hakikat Dakwah:

Dari sudut bahasa kata dakwah berarti menyeru atau memanggil, mengajak orang lain supaya mengkuti, bergabung , memahami untuk memiliki sutau tindakan dan tujuan yang sama yang diharapkan oleh penyerunya. Hampir mirip dengan pengertian komunikasi dalam istilah ilmu kmunkasi; menciptakaan suatu pemahaman yang sama antara komunikan dan komunikator melalui proses, seperti penyampaian pesan baik verbal maupun non verbal.

Hamid Mowlana menyebutnya dengan kata tabligh, jadi komunikasi bagi Mowlana ketika dihubungkan dengan Islam sebagaimana yang digagasnya mengandung arti kata tabligh, yang berarti meyampaikan, tujuannya tiada lain untuk membuat suatu komunitas sebagaimana yang diharapkan; komunitas muslim.

Ada perbedaan sedikit antara penggunaan kedua kata: dakwah dan tabligh tersebut. Secara mudah saja bisa dibedakan antara menyampaikan dengan menyeru, kata menyampaikan lebih berarti menyampaikan sesuatu yang dimiliki oleh seseorang kepada orang lain, apakah orang lain tersebut nanti menerima atau menolaknya, tidak menjadi perhatian. Sementara kata dakwah berorientasi pada hasil, mengajak dan menyeru lebih bermakna harus kena sasaran, mencapai target.

Dalam penggunaan ini Al-Qur’an memakai kata dakwah dalam bentuk perintah untuk mengajak sehingga menghasilkan, sedangkan kata tabligh dipakai untuk arti menyampaikan sesuatu yang diterima dari luar (dirinya, seperti wahyu) untuk disampaikan kepada sasaran, jika tidak diterima itu bukan lagi urusan sang penyampai, karena tugasnya hanya menyampaikan.

Sedangkan dalam pengertian dakwah sebagaimana yang dimaksud dalam wacana keislaman, mencakup pengertian kedua kata tersebut; mengajak untuk bergabung dan masuk pada kelompok dengan pemahaman dan pengertian serta pengamalan yang sama, sekaligus juga ada kegiatan menyampaikan sesuatu yang didapat dari unsur luar (wahyu Tuhan) kepada kelompoknya maupun kepada sasaran di luar kelompoknya.

Jadi bukan hanya semangat tabligh yang ada, tapi juga semangat pembentukan realitas dan beorientasi pada hasil, hasilnya adalah sebuah komunitas religius yang “menjadi” dan berkelanjutan menuju kesempurnaan.

Mencipta Realitas Ideal:

Kegiatan dakwah jika dilihat dari pengertian di atas berarti kegiatan pembentukan suatu realitas sosial dan budaya berdasarkan nilai-nilai ilahiyah (ideal), jadi segala usaha yang dilakukan semuanya diprogram sedemikian rupa sehinga dapat membuat realitas ideal baru sesuai dengan sistem nilai yang berlaku menurut ajaran yang didakwahkan.

Beranjak dari pemahaman ini maka semua kegiatan dalam dakwah Islamiyah mencakup berbagai dimensi yang tujuannya pembentukan realitas sosial dalam suatu komunitas sosial muslim yang religius berdasarkan nilai Islam. Informasi yang diberikan, sikap, kegiatan serta tindakan dan ajakan semuanya ditujukan pada pemahaman dan pengamalan nilai-nilai religius dalam suatu komunitas.

Dakwah = Genre:

Ketika kegiatan dakwah tersebut dihubungkan dengan media massa, maka akan berarti bahwa media tersebut memiliki genre (gaya/format) dan konten (isi) yang mengarah pada ajakan serta motivasi pengamalan relegius, bahasa al-Qur’annya konten dan gaya media harus berupa al-wa’du wal wa’id.

Penentuan gaya sangatlah penting dan bersifat intelektual (karya intelektual) yang serius, karena gaya sangat berperan dalam mencapai sasaran berdasarkan pada segmentasi audience; viewers, listeners, readers serta target yang diharapkan, yang harus diperhatikan dalam kontek ini bahwa sebagian besar audien masih “rela” menjadi sasaran media massa dengan status pemakai bukan partisipan yang kadang disuguhi apa saja sesuai kehendak (baca kepentingan) produsen bahkan tidak mustahil menjadi sasaran konten yang manipulatif dan komersial tanpa mampu berbuat apa-apa selain melahap saja informasi yang diterima, that people easily become passive consumers of mass media’s manipulated or commercialized content (Schultz, Mass media and the concept of interactivity, Media, Culture & Society , Vol. 22: 206).

Genre dalam bahasa komunikasi sering diartikan gaya atau style serta tema dan sangat berhubungan dengan pemilihan tek sesuai dengan kelas dan mewakili suatu komunitas tertentu. Misalkan sebuah media menjadikan anak muda sebagai kelompok sasaran, maka tek dan bahasa yang dipakai adalah bahasa yang familier dengan mereka, demikian juga disain photo serta image-image yang dipakai sebagai pendukung, termasuk setting dan tata letaknya. Hal serupa berlaku juga dalam pembuatan film maupun sinetron dalam memilih kata-kata dan gerak serta karakternya, serta pemilihan bahasa yang dipakai penyiar radio. The word genre comes from the French (and originally Latin) word for ‘kind’ or ‘class’. The term is widely used in rhetoric, literary theory, media theory, and more recently linguistics, to refer to a distinctive type of ‘text’.(Daniel Chandler, An Introduction to Genre Theory, http://www.aber.ac.uk/media/).

Memang ada kesulitan dalam membuat definisi genre, karena ia tidak berdiri sendiri bahkan lebih dipandang suatu yang abstrak, secara konvensional didefinisikan sebagai berikut, Conventional definitions of genres tend to be based on the notion that they constitute particular conventions of content (such as themes or settings) and/or form (including structure and style) which are shared by the texts which are regarded as belonging to them.

Dalam wacana kajian media di Indonesia, sering digunakan kata frame atau style seperti yang digunakan Eryanto dalam tulisan-tulisanya (Eriyanto, Analisis Framing, 2002) yang menurut hemat penulis berarti genre dalam teori media.

Permasalahan yang muncul ketika dihadapkan dengan konsep dakwah sebagai pembentukan realitas sosial, yang harus menjunjung tinggi nilai-nilai akhlak dalam berbagai hal; dalam bertutur kata, pemilihan bahasa dan gaya isyarat (nonverbal communication) akan terjadi benturan komunikasi yang sangat merugikan secara normatif, maka yang terjadi penanaman kebaikan dengan mengikuti jalan yang justru harus diperbaiki. Katakanlah penyampaian pesan sopan santun di satu sisi berlawanan dengan pemilihan kata “gua” “elu” dalam kontek kebahasaan. Sebagai perbandingan ada usaha prbaikan genre yang dilakukan oleh Dedy Mizwar dkk dalam Kiamat Sudah Dekat (Sinetron Kiamat Sudah Dekat edisi revisi ditayangkan di SCTV Ramadlan 1426H.) saat Saprol dan Kipri berdialog, ketika Saprol mengkritik pemilihan kata yang dikapai Kipri, kata “bego” dengan kata “bodoh”, lalu dihaluskan oleh Dedy Mizwar dengan kata “kurang pintar” walau nampak agak jenaka, namun sudah menunjukkan ada perhatian pada pendidikan pemilihan kata-kata.

Al-Qur’an juga mengajarkan untuk memilih ungkapan serta penuturan bahasa, seperti kata ra’īna di perbaiki oleh al-Qur’an menjadi unzurnā. Terlihat pada kasus ayat tersebut bagaimana Allah SWT menegur langsung kaum muslimin agar mengunakan kata yang pantas serta disosialisasikan di kalangan mereka. Hal perbaikan penggunaan kata-kata juga dilakukan oleh Rasul SAW. Seperti penggunaan kata ‘im shabāhan diganti dengan kata shabāhu al-khair. Tradisi penngunaan bahasa yang baik tersebut dilanjutkan oleh para ulama muslim, kisah ‘Umar Bin Abdul Aziz yang sering mengkritik para seniman yang menggunakan kata-kata kurang sopan atau kurang pas dan tidak mencerminkan missi yang jelas merupakan bukti pelaksanaan tradisi tersebut, seperti kritikannya terhadap seseorang yang mengatakan: Tahta Ibtika dan menyuruh menggantinya dengan ungkapan tahta yadika. Kritikan lainnya pada seseorang yang menulis surat dengan menggunakan kata wa kāna musliman min abin lam yaslam ‘Umar bertanya bagaimana jika hal itu dikatakan kepada kaum al-Muhajirin dan al-Anshar? Itu berbhaya, karena akan mencakup orang tua Rasul saw! Jawab penulis, kamu sudah menjadikannya sebagai perumpamaan, maka kamu tidak boleh menulis apapun di hadapanku, kata ‘Umar (Abdul Aziz Sayyidu al-Ahl, Al-Khalîfah al-Zâhid ‘Umar Ibn ‘Abd Al-‘Aziz”,1973, h, 192). Sedangkan di bidang seni ‘Umar membolehkan memukul rebana dan melarang untuk memainkan alat musik yang ada snarnya (gitar).

Di sini nampak bahwa ‘Umar mencoba membuat suatu tradisi baru baik dalam seni syair (sastra) maupun komunikasi serta kesenian tradisional lainnya seperti izinnya untuk rebana. Ia sangat tanggap terhadap permaslahan –permasalahan yang ada disekitarnya sampai dalam bahasa pun ia perhatikan. Nampaknya ‘Umar melihat bahwa perbaikan tidak saja dalam aspek prilaku semata, tapi juga dalam aspek penuturan dan bahasa. Artinya ia melakukan kontrol terhadap penggunaan bahasa serta kontennya (pers masa klasik?) terutama syair dan tradisi tulis- menulis.

Informasi di atas menunjukkan bahwa permaslahan genre dalam kontek komunikasi massa Islami sudah mendapat perhatian sejak masa awal Islam, hal tersebut karena akan menunjukkan identitas kelompok, dalam Islam dikenal bahwa apa yang nampak terlihat dan terucap dalam sebuah realitas kehidupan seseorang adalah merupakan cerminan kondisi hatinya, demikian kaidah yang diungkap para ulama, di Indonesia juga dikenal pribahasa “bahasa menunjukkan bangsa”. Dengan demikian maka dakwah melalui media massa hendaknya memperhatikan kepekaan pemilihan genre agar tidak terjebak pada benturan antara pesan yang ingin disampaikan dengan konten yang ditampilkan.

Untuk itu yang pertama harus dilakukan adalah menentukan tujuan dakwah, kemudian mengkontruksi genre, penulis sebut mengkonruksi sebab dalam dakwah yang hendak dicapai adalah terciptanya realitas ideal sesuai ajaran, dan genre yang dipilih adalah meupakan kumpulan realitas-realitas ideal tadi yang ingin –melalui dakwah tersebut— diwujudkan dalam komunitas nyata.

* Penulis adalah Pimpinan Ponpes Modren Al-Ikhlash Ciawilor Kuningan Jawa Barat, kandidat doctor UIN Jakarta bidang Dakwah dan Komunikasi